Kuasa Hukum Tan A Hua Sebut 2 Saksi yang Dihadirkan Tergugat Tak Berbobot

Aris Rinaldi Nasution
Selasa, 01 Februari 2022 - 11:47
kali dibaca
Ket Foto : Dua orang saksi yakni Awal Kurniawan yang merupakan supir dari Johny dan Yuda Pratama yang mengontrak rumah diatas lahan di Sei Kera, No.5/211 saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Medan.

Mediaapakabar.com
Sidang gugatan Tan A Hua alias Anton melawan tergugat I Johny beragendakan mendengarkan keterangan dari 2 orang saksi yakni Awal Kurniawan yang merupakan supir dari Johny dan Yuda Pratama yang mengontrak rumah diatas lahan di Sei Kera, No.5/211.

Dalam keterangannya, saksi Awal Kurniawan di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Dominggus Silaban menyebutkan, dirinya mengaku mengetahui ada masalah sebidang tanah di jalan Sei Kera. Namun saksi tidak tahu berapa harga jualnya.


"Kalau harganya gak tahu pak, alamat Notaris nya di Jalan T Amir Hamzah pak. Waktu rehab itu kurang lebih 4 bulan, iya saya yang ngawas karena saya yang belikan barang-barangnya pak. Waktu rehab itu gak ada yang datang mengklaim itu tanah. Johny beli ke Sendrawarman pak," kata saksi Kurniawan, Senin, 31 Januari 2022.


Sementara saksi Yuda Pratama yang mengontrak rumah mengaku dirinya pernah pegang blanko pembayaran Pajak PBB. 


"Yang bayar pajak pak Johny, saya yang terima blanko nya dari Kepling dan saya serahkan ke pak Johny. Awal mula ngontrak itu karena ada plank disewakan pak," cetus saksi. 


Seusai sidang kuasa hukum dari Tan A Hua kepada wartawan bahwa 2 orang saksi yang dihadirkan oleh tergugat Johny tidak berbobot.


"Tidak berbobot, karena satu mantan supirnya tergugat dan satu lagi anak kos yang objeknya disewakan," ucap Hermanto, SE, SH didampingi Julianto E Sidabutar, SH selaku kuasa hukum Tan A Hua. 


Selain itu, Hermanto juga menjelaskan gugatan tersebut dilakukan dikarenakan objek sebidang tanah dan bangunan di Sei Kera milik kliennya di klaim oleh orang lain.


"Gugatan ini timbul karena ada pihak yang bernama Johny mengklaim objek yang di Sei Kera itu miliknya, dengan alas hak yang berdasarkan grand sultan, menurut saya itu copy. Karena alas hak asli itu pasti ditarik BPN, karena objek tersebut sudah dalam bentuk sertifikat. Sebenarnya yang punya itu Tan A Hua, dia belinya dari Sendrawarman Tandiono dan Tan Giok Kie, di tahun 2012 berdasarkan akta jual beli notaris seharga Rp 210 juta," terangnya.


Sebelum mengakhiri, Hermanto meminta kepada Majelis Hakim untuk memberikan putusan yang adil. 


"Menurut mereka akta no 72, isi nya sebidang tanah yang belum ditentukan haknya, belum bersertifikat, padahal sudah punya alas hak sertifikat. Kami meminta kepada Majelis Hakim memberikan putusan sesuai dengan fakta hukum yang seadil - adilnya," pungkasnya. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini