Kisah Lucu Saat Perampokan Toko Mas: Satpam Ditodong Senpi, Dikira BNN

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 16 Februari 2022 - 21:42
kali dibaca
Ket Foto : Para saksi yang dihadirkan JPU memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Medan.

Mediaapakabar.com
Ada kisah lucu saat terjadinya perampokan dua toko mas di Pajak Simpang Limun dengan menggunakan senjata api (senpi) pada 26 Agustus 2021 lalu. Salah satu satpam yang ditodong senpi oleh perampok, mengira kalau dirinya ditodong oleh anggota BNN. Duh !! 

Dalam sidang yang digelar di Ruang Cakra IX Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (16/2/2022), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kharya Saputra dan Ramboo Loly Sinurat menghadirkan empat saksi. 


Mereka bersaksi untuk empat terdakwa yakni Paul Jhon Alberto Sitorus (32), Dian Rahmat (26), Prayogi alias Bedjo (25) dan Farel Ghifari Akbar (22). 


Saksi pertama, Kasmawati menjelaskan bahwa saat kejadian perampokan berlangsung sekitar jam 14.30 wib, dirinya baru selesai pulang sholat dan mau mengambil emas pesanan pengunjung. 


"Saya lihat di depan toko ada empat orang yang mau merampok dari Jalan Seksama. Tiba-tiba, saya lihat (salah satu terdakwa) yang tinggi melompat ke toko saya. Dia pecahin kaca steling berisi emas sambil pegang pistol. Saya menjerit. Wajahnya tertutup (dengan sebo). Karena dia pegang pistol, saya tengok (lihat) aja," jelas pemilik Toko Mas Aulia Chan ini. 


Selain merampok emas, salah satu terdakwa bertubuh tinggi juga membuka brankas milik Kasmawati. Isi brankas tersebut hanya ada uang. Disinggung berapa total kerugian atas perampokan tersebut, Kasmawati tidak mengetahuinya. 


Saksi kedua, Ade Irawan mengaku saat kejadian perampokan berlangsung, di Toko Mas Masrul F miliknya sedang ada pengunjung. Ketika di pos satpam, Ade mendengar ada kata-kata tiarap yang memancing keributan sehingga dia keluar toko dan melihatnya. 


"Saat saya mau keluar, satu perampok melompat ke toko saya dan mengambil emas. Satu perampok lain memerintah dari luar toko. Saat dia buka brankas, baru saya perhatikan dari belakang bahwa ada pisau," cetusnya. Ade mengklaim dirinya mengalami kerugian 4 kilogram emas yang ditaksir mencapai Rp 3-4 miliar. 


Namun, ada juga emas milik Ade yang besar, tapi tidak ada dijadikan barang bukti. Dia mengaku bahwa emas miliknya ada yang sudah dijual para perampok. Sementara itu, saksi ketiga yakni Jansen Sitorus yang bertugas sebagai satpam saat kejadian perampokan berlangsung. 


Lucunya, saat ditodong senpi laras panjang, Jansen mengira bahwa para perampok itu merupakan anggota BNN. 


"Saya lagi di meja piket dan melihat mereka (para perampok) sudah berdiri sambil bawa pistol. Saya pikir orang BNN. Siapa yang mau ditangkap ini. Begitu saya curiga, tiga orang menyergap saya. Setelah itu, saya ditodong senjata laras panjang hingga digeledah dan disuruh tiarap," terangnya. 


Selain Jansen, temannya juga disuruh tiarap. Usia digeledah, Jansen langsung lari ke kantor keamanan. "Saat saya di kantor, saya dengar ada letusan 3 kali," ucapnya. 


Sedangkan saksi keempat, Julius Sardi Simanungkalit menyebutkan, bahwa dirinya sempat mengejar para perampok. Dia juga sempat ditembak hingga mengalami luka di dekat telinga. 


"Saat di pintu keluar Jalan Seksama, keempat perampok menenteng senjata dan bawa tas menuju ke parkiran kereta. Setelah tau saya mereka perampok, saya kejar dan lempar pakai kotak tahu. Saya ditembak pakai laras panjang. Karena ditembak, saya dirawat di rumah sakit selama 3 hari," sebut juru parkir (jukir) ini. 


Setelah mendengarkan keterangan para saksi, Hakim Ketua, Denny Lumban Tobing menunda sidang hingga pekan depan. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini