Dampak Perang Rusia-Ukraina, Petani Sawit Diuntungkan

Aris Rinaldi Nasution
Sabtu, 26 Februari 2022 - 19:51
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Perang memang masih berkecamuk di Ukraina. Banyak pihak yang mengkuatirkan adanya gangguan pada ekspor-impor atau kinerja perdagangan global pada umumnya. 

Menurut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, memang perang tersebut akan berdampak pada kinerja perdagangan. Terlebih jika ada negara yang sangat bergantung perdagangannya pada kedua negara tersebut.


"Tetapi bagi Indonesia saya pikir tidak akan berpengaruh banyak. Perdagangan kita dengan Rusia terbilang sangat kecil. Menurut data Kemendag nilainya sebesar $2.75 Miliar Dolar. Di tahun 2021 kita mencatatkan surplus berdagang dengan Rusia sebesar $340.3 juta di 2021. Jadi kalau seandainya tiba-tiba perdagangan kita terhenti dengan Rusia, justru kita yang berpeluang akan dirugikan. Terlebih ekspor kita ke Rusia adalah produk non migas," katanya di Medan, Sabtu (26/2/2022).


Gunawan menjelaskan, jadi memang tidak semudah itu hubungan dagang antar negara secara politis dihentikan karena perang. Bukan hanya Indonesia, negara eropa yang ada di blok NATO sekalipun akan kesulitan jika hubungan dagang dengan Rusia terhenti. Terlebih Rusia menjadi negara pengekspor MIGAS ke Eropa. Menutup jalur perdagangan sama saja memicu krisis.


Bagi Indonesia saat ini, perang telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Saat ini harga minyak mentah meroket lebih dari $100 per barel. Ini tentunya jadi kabar buruk bagi kita, karena pemerintah akan mengeluarkan anggaran lebih untuk subsidi BBM. 


Pertamina tengah dalam posisi dilematis, kalau tidak menaikkan harga, ini berarti sama saja Pertamina menanggung rugi dengan berjualan BBM di masyarakat.


"Selain minyak, harga komoditas dunia juga mengalami kenaikan. Seperti pupuk, sawit,  kacang kedelai,  hingga banyak komoditas pangan lainnya. Korelasinya begini, disaat perang seperti yang terjadi saat ini, harga minyak dunia menjadi lebih mahal. Mahal disini tentunya ada banyak pemicu, umumnya dipicu gangguan produksi dan distribusi," jelasnya.


Dia mengungkapkan, saat minyak mentah dunia naik, minyak sawit ini bisa jadi bahan bakar juga, seperti bio diesel atau kalau kita mengenalnya bio solar. Jadi kalau minyak dunia naik, pembeli akan beralih ke sumber minyak lain, bio solar salah satunya. Sudah pasti harganya juga akan ikut naik.


"Perang Rusia-Ukraina ini memang telah menyeret banyak masalah kenaikan harga pangan maupun energy di dunia. Tetapi bukan semuanya menjadi kabar buruk. Justru kalau kita bicara Sumut, petani sawit di Sumut diuntungkan dengan perang tersebut. Data menunjukan kalau harga CPO dunia itu naik dalam sepekan perdagangan terakhir," ungkapnya.


Gunawan menambahkan, CPO naik dari kisaran 5.500-an ringgit per ton menjadi 6.400-an ringgit per tonnya akhir pekan kemarin. Jadi perang Rusia-ukraina ini bukan semuanya menjadi kabar buruk. Kita memang perlu memitigasi dampak buruknya, tetapi disisi lain tetap ada yang diuntungkan, petani sawit kita contohnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini