Bunga Acuan The FED Naik, Picu Ancaman Krisis Ekonomi

Aris Rinaldi Nasution
Jumat, 11 Februari 2022 - 20:10
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Realisasi laju tekanan inflasi di Amerika Serikat (AS) memicu terjadinya koreksi pada banyak bursa di Asia dan Eropa. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan ini ditutup di zona merah dengan membukukan koreksi 0.12 persen di level 6.815,60. Sementara itu, kinerja mata uang Rupiah bergerak dalam tren yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kinerja sebelumnya.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, Rupiah diperdagangkan di kisaran level 13.346 per US Dolar pada perdagangan hari ini. Kalau melihat kinerjanya selama sepekan, baik IHSG dan Rupiah mengalami penguatan. Namun, memang untuk perdagangan di akhir pekan, IHSG dan Rupiah mendapatkan tekanan eksternal dari realisasi laju tekanan inflasi di AS.


"Dimana laju tekanan inflasi tersebut telah mendorong Bank Sentral AS (The FED) kembali bersikap hawkish yang diterjemahkan bahwa kebijakan moneter ketat akan dimulai segera dengan kebijakan yang lebih agresif dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, pada hari Kamis kemarin Bank Indonesia masih menetapkan besaran bunga acuan di level yang sama," katanya di Medan, Jumat (11/2/2022).


Gunawan menjelaskan, pasalnya BI 7 DRR masih ditetapkan di level 3.5 persen. Beruntung akhir pekan rupiah maupun IHSG tidak terkoreksi banyak dan hanya koreksi terbatas. Ini menunjukan bahwa pelaku pasar masih menaruh kepercayaan, bahwa tekanan yang akan diberikan AS ke pasar keuangan global, akan direspon oleh BI dengan kebijakan yang tidak jauh berbeda.


Saat ini, ekonomi dan pasar keuangan global tengah berhadapan dengan ancaman tekanan di pasar keuangan ditambah dengan masalah pandemi yang belum berakhir. Kenaikan bunga acuan di AS akan menyeret laju tekanan inflasi, menambah beban hutang, hingga kejatuhan sektor keuangan. Bahkan, sejumlah masalah tersebut akan terjadi di banyak negara berkembang tanpa terkecuali Indonesia.


"Masalah Inflasi, Covid-19 sebenarnya sudah cukup membuat ekonomi nasional menderita. Ditambah lagi dengan kenaikan bunga acuan AS serta ancaman perang. Ke depan khususnya di tahun ini pemerintah akan dikejutkan dengan tekanan-tekanan yang sifatnya tak terduga. Bahkan, yang paling buruk yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga kebutuhan pangan masyarakat," jelasnya.


Gunawan menuturkan, dari ancaman kenaikan harga bahan pangan global juga masih akan berlangsung di sepanjang tahun ini. Kita perlu beradaptasi dengan kebijakan bank sentral AS. Walaupun kebijakan tersebut bukanlah yang pertama sekali terjadi. Tetapi di tahun ini kebijakan moneter ketat Bank Sentral AS turut dibarengi dengan pandemi Covid-19.


"Terkait hal tersebut,  daya rusaknya akan lebih besar dibandingkan kebijakan yang sama yang pernah diambil The FED sekitar 10 tahun silam. Bukan tidak mungkin kebijakan Bank Sentral AS nantinya justru memicu terjadinya krisis di sejumlah negara berkembang. Jadi kita harus bersiap untuk menghadapi itu semua. BI kita harapkan jadi benteng untuk menghalau potensi buruk dari The FED," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini