BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,50 Persen

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 10 Februari 2022 - 20:22
kali dibaca
Ket Foto : Gubernur BI Perry Warjiyo.

Mediaapakabar.com
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 9-10 Februari 2022 telah memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.

“Keputusan ini diambil sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan terkendalinya inflasi, serta upaya untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, seperti dikutip melalui live streaming pembacaan hasil RDG Bulanan, Bulan Februari, Kamis (10/2/2022).


Perry menjelaskan, BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut. Hal ini dilakukan melalui berbagai langkah seperti memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan mekanisme pasar dan fundamental ekonomi.


Selanjutnya, normalisasi kebijakan likuiditas yang diumumkan pada tanggal 20 Januari 2022 melalui Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah. Selain itu juga memberikan insentif bagi bank-bank yang menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor prioritas dan UMKM dan/atau memenuhi target RPIM berupa pelanggaran atas kewajiban pemenuhan GWM Rupiah rata-rata sampai dengan sebesar 1 persen mulai berlaku 1 Maret 2022.


"Nantinya BI juga akan memperkuat kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman perbandingan spread suku bunga kredit perbankan terhadap negara kawasan," jelasnya.


Lebih lanjut, BI juga meningkatkan limit transaksi QRIS dari semula Rp5 juta menjadi Rp10 juta per transaksi, berlaku sejak 1 Maret 2022 untuk mendorong konsumsi masyarakat dalam rangka mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional.


Selanjutnya BI pun akan memperluas penggunaan Local Currency Settlement (LCS) sebagai sarana untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi bilateral dengan negara-negara mitra utama, khususnya Asia.


"BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka akselerasi vaksinasi dan pembukaan sektor-sektor ekonomi, koordinasi fiskal dan moneter, mendorong kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pemulihan ekonomi nasional," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini