Pekan ini, Rupiah dan IHSG dalam Tekanan

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 19 Januari 2022 - 21:17
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Kinerja pasar keuangan selama pekan ini berada dalam tekanan. Baik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah sejak awal pekan hingga saat ini diperdagangkan di zona merah. 

Adapun faktor pemicu terbesar pelemahan kinerja pasar keuangan domestik adalah rencana kebijakan moneter ketat Bank Sentral AS yang akan lebih agresif dilakukan dalam waktu dekat. 


Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tak hanya hal itu saja. Kekuatiran pasar lainnya adalah memburuknya kasus Omicron baik global maupun penambahan jumlah kasus di tanah air. 


Meskipun sentiment paling banyak datang dari luar atau eksternal, namun hal inilah yang memicu terjadinya tekanan di pasar keuangan domestik. Pada perdagangan hari ini IHSG ditutup turun 0.33 persen di level 6.591,98. Sementara mata uang Rupiah diperdagangkan melemah di level 14.393 per US Dollar.


"Kinerja pasar keuangan hingga akhir pekan nanti akan masih dihantui oleh tekanan. Sentimen eksternal masih sangat potensial membuat kinerja pasar keuangan domestik berada di zona merah. Ada banyak sentimen buruk selain Covid-19. Data ekonomi di negara besar masih menunjukan adanya kemungkinan tekanan lanjutan. Salah satunya adalah tingginya inflasi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah harapan," katanya di Medan, Rabu (19/1/2022).


Sementara itu, hubungan antara negara besar yang memburuk juga turut memperkeruh kinerja pasar keuangan global. Jadi akan ada akumulasi sentimen negatif eksternal dan internal dalam waktu dekat. 


Pasar keuangan masih akan terombang-ambing dengan tren kinerja yang menurun. Bahkan, sejauh ini belum terlihat sentimen positif dalam waktu dekat yang muncul, yang diharapkan bisa memperbaiki tren kinerja pasar keuangan kita.


"Di pekan ini, BI memang akan menentukan kebijakan suku bunga acuannya. Tetapi sekalipun kebijakan menaikkan suku bunga acuan dilakukan, tidak akan berdampak besar bagi pasar keuangan kita. Pada dasarnya kebijakan menaikkan suku bunga acuan akan mengurangi tekanan eksternal dari Bank Sentral AS. Terlebih untuk mata uang Rupiah," ujar Gunawan yang juga dosen Fakultas Ekonomi UISU ini.


Lebih lanjut, Gunawan menambahkan, jika berharap pasar keuangan lantas membaik karena kebijakan BI. Dia berpikir pandangan tersebut terlalu naif, karena pada dasarnya tekanan eksternal kedepan nanti kian berat. Kebijakan apapun yang akan diambil oleh BI untuk menghindarkan pasar keuangan dari tekanan berat tersebut. 


Namun bukan berarti dengan kebijakan penyesuaian bunga lantas sentiment negative di pasar langsung menghilang. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini