Harga Pupuk Naik, Picu Harga Pangan Mahal

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 17 Januari 2022 - 19:47
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
- Beberapa waktu lalu, khususnya dimulai di kuartal ketiga 2021 lalu, terjadi kenaikan harga pupuk internasional yang memicu kenaikan harga pupuk domestik. Memang, di tingkat petani kita, harga pupuk belakangan sudah sangat mahal khususnya untuk pupuk non subsidi yang diikuti dengan kenaikan harga pestisida. 

Namun, untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut) sendiri, masalahnya bukan hanya terletak pada mahalnya harga pupuk. 


Bahkan, lonjakan konsumsi pupuk pada petani sawit juga menjadi masalah sendiri yang mengakibatkan permintaan akan pupuk non subsidi meningkat oleh petani sawit yang jelas saat ini memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dibandingkan dengan jeni petani lainnya khususnya petani sub tanaman palawija maupun hortikultura.

 


Lonjakan konsumsi pupuk pada petani sawit juga menjadi masalah sendiri. Yang mengakibatkan permintaan akan pupuk non subsidi meningkat oleh petani sawit, yang jelas-jelas mereka saat ini memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dibandingkan dengan jenis petani lainnya khususnya petani sub tanaman palawija maupun hortikultura.


 Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, memang ada ketimpangan pada hal tersebut. Dimana, petani sawit (sub sektor perkebunan) NTP-nya dikisaran 150, sementara petani tanaman hortikultura di Sumut, NTP-nya masih dibawah 100. 


"Jadi memang ketersediaan pupuk di wilayah Sumut seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya, khsusunya saat harga sawit masih dibawah 3.000 ringgit per tonnya. Jika tidak, terjadi ketimpangan antar petani yang sangat lebar terlebih jika pasokan pupuk subsidi bagi petani juga tidak bertambah," katanya di Medan, Senin (17/1/22).


Gunawan mengungkapkan, kenaikan harga pupuk maupun pestisida tentu membuat pengeluaran petani bertambah. Jadi, jika seandainya harga jual produk petani mengalami kenaikan, namun ketika kenaikan harga jual tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan pengeluaran, maka NTP petani susah naik. Bahkan, bisa memburuk kalau harga jual produk petani malah turun.


"Kita memahami bahwa kenaikan harga pupuk internasional mempengaruhi harga pupuk di tanah air. Tetapi kita juga harus mempersiapkan diri terkait dengan potensi kenaikan harga pangan masyarakat. Mulai dari tanaman palawija seperti padi, kedelai, sampai ke tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, hingga ke bahan pangan lainnya seperti daging," ungkapnya.


Diakuinya, kenaikan harga pupuk non subsidi akan membuat pengeluaran petani mengalami peningkatan. Tergantung pada kebutuhan pupuk maupun pestisida masing-masing petani. Tak hanya itu, peningkatan harga pupuk dan pestisida tersebut akan membuat biaya tanam dan perawatan meningkat. Petani meskipun tidak sepenuhnya mampu mematok harga jual, tetapi mereka punya hitungan berapa harga jual yang pas buat petani.


Sebagai contoh, saat pupuk dan pestisida mahal, petani tentunya memiliki harga balik modal saat hasil tanamannya dijual. Pastinya harga tersebut lebih tinggi saat harga pupuk dan pestisida naik. Kalau harga jual produk mereka lebih murah dari harga pokok (harga modal), maka ini bisa membuat petani enggan untuk menanam lagi tanaman yang sama.


Jadi kenaikan harga pupuk dan pestisida bisa memicu kenaikan harga pangan di tingkat konsumen. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika pupuk dan pestisida ini sangat erat dengan tanaman petani yang mempengaruhi biaya produksi secara langsung. Namun kenaikan harga pupuk dan pestisida secara tidak langsung juga bisa mempengaruhi kenaikan harga daging, baik itu daging ayam, daging sapi maupun telur ayam.


"Logikanya, disaat harga pakan ternak yang bahan dasarnya jagung harganya naik karena pupuk mahal, maka harga pakan ternak juga ikutan naik. Ini juga sangat potensial memicu terjadinya kenaikan harga daging maupun telur. Jadi kenaikan harga pupuk dan pestisida ini pada dasarnya membuat pengendalian inflasi kian berat," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini