Grafiti Kritik Kim Jong-un Muncul di Jalanan Korut

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca

Ket Foto : Warga Pyongyang dikagetkan dengan kemunculan grafiti yang menyuarakan kritik terhadap pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. 


Mediaapakabar.com
Warga Pyongyang dikagetkan dengan kemunculan grafiti yang menyuarakan kritik terhadap pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un.

Seorang sumber mengatakan kepada Daily NK bahwa grafiti itu ditemukan di luar salah satu apartemen di Distrik Pyongchon, Pyongyang, pada 22 Desember lalu.


Grafiti itu berbunyi, "Kim Jong-un keparat. Rakyat kelaparan setengah mati karena Anda."


Menurut sumber tersebut, grafiti itu pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama keluarga Kim sekitar pukul 4.20 waktu setempat, ketika sedang patroli di kawasan tersebut.


Sesuai protokol, kepala unit warga daerah itu melaporkan kemunculan grafiti tersebut ke petugas keamanan lokal. Kementerian Keamanan Negara Korut akhirnya mengirimkan agen mereka untuk menutup lokasi dan menghapus grafiti tersebut.


Grafiti ini diyakini menjadi bukti publik sudah muak dengan pengetatan aturan yang diterapkan pemerintah atas nama pencegahan penularan Covid-19.


Aparat keamanan juga siaga penuh karena grafiti bermuatan kritik ini muncul menjelang Rapat Pleno Keempat Komite Pusat Partai Buruh Korut.


Sumber itu juga mengatakan bahwa aparat menganggap serius insiden ini karena terjadi ketika agenda politik Korut sedang padat, mulai dari peringatan wafat Kim Jong-il hingga ulang tahun ibunda Kim Jong-il.


Kementerian Keamanan Negara Korut pun langsung mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan pelaku penggambar grafiti ini.


Mereka bahkan dilaporkan sudah melakukan analisis tertulis terhadap para pekerja di pabrik-pabrik lokal dan siswa di sekitar lokasi tersebut sejak 23 Desember lalu.


Selama ini, Korut melarang keras segala tindakan yang mengkritik langsung pemimpin negara. Pihak berwenang sudah beberapa kali mengadili pengkritik dengan dakwaan terkait kejahatan terhadap negara atau penghasutan.


Para pelaku biasanya dikirim ke kamp-kamp penjara politik. Beberapa dari mereka bahkan dieksekusi mati.


Pada Maret 2018 lalu, misalnya, seorang kolonel di Departemen Staf Umum dieksekusi di hadapan publik setelah mengkritik rezim Kim Jong-un melalui grafiti di teater April 25 House of Culture di Pyongyang. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini