Pertumbuhan Ekonomi Sumut Terakselerasi

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 15 Desember 2021 - 13:42
kali dibaca
Ket Foto : Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Soekowardojo dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Medan, Rabu (15/12/2021).

Mediaapakabar.com
Bank Indonesia (BI) proyeksikan pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2021 terus terakselerasi. Hal itu dikarenakan adanya rebound ekonomi yang terjadi di triwulan II-2021 di Sumatera Utara (Sumut). Apalagi pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam dengan -1,07 persen (yoy).

"Di tengah perkembangan kasus positif Covid-19 serta penerapan kebijakan PPKM, kami prakirakan justru akan menahan laju permintaan domestik. Meski begitu, upaya akselerasi vaksinasi kami proyeksi menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Soekowardojo dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Medan, Rabu (15/12/2021).


Dia mengungkapkan, sejalan dengan proyeksi Sumatera, untuk peningkatan harga komoditas menjadi faktor pendorong ekonomi Sumut di tahun 2021. Maka itu, di tahun 2021, ekonomi Sumut diperkirakan  akan terakselerasi dengan range pertumbuhan 2,5-3,3 persen.


Dia pun memperkirakan perekonomian Sumut akan meningkat secara gradual seiring dengan berlangsungnya program vaksinasi dan tercapainya target herd immunity. 


"Dari sisi eksternal, perbaikan ekonomi dunia mendorong volume perdagangan dari Sumut yang diiringi dengan masih tingginya harga komoditas. Bahkan, dari sisi domestik, inflasi akan terus terkendali didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah," tuturnya.


Soeko menjelaskan, untuk investasi infrastruktur nasional yang terus berjalan juga mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut. Dari sisi konsumsi Pemerintah diperkirakan akan meningkat karena aktivitas yang kembali normal mendorong optimalisasi belanja operasi dan belanja 


Secara umum, inflasi Sumut tahun 2021 diperkirakan masih dalam rentang sasaran nasional 3 persen ±1 persen dengan potensi bias bawah.


Kondisi tersebut masih sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian didukung percepatan program vaksinasi oleh pemerintah.


“Namun, peningkatan inflasi lebih lanjut tertahan oleh masih terbatasnya pemulihan ekonomi, serta rencana pembatasan kegiatan pada akhir tahun 2021,” jelasnya.


Lebih lanjut, adapun faktor pendorong inflasi adalah kenaikan harga CPO sehingga mendorong peningkatan harga produk turunannya seperti minyak goreng. Selanjutnya, pemberlakuan kebijakan pelonggaran LTV & DP Kendaraan bermotor serta kebijakan pemerintah terkait insentif PPnBM. 


Tak hanya itu, optimisme yang membaik seiring dengan percepatan implementasi program vaksinasi. Begitu juga dengan kenaikan harga rokok kretek filter seiring dengan rencana pemerintah menaikan cukai rokok pada 2022 mendatang.


“Penyebab lainnya adalah  kenaikan tarif angkutan udara seiring aktivitas menyambut Nataru,” ungkapnya.


Untuk faktor penahan inflasi adalah risiko penyebaran wabah Covid-19 varian Omicron berdampak pada terbatasnya aktivitas ekonomi masyarakat.


Lalu kecenderungan masyarakat melakukan penundaan pembelian, karena restriksi aturan di masa pandemi dan faktor berjaga-jaga.


“Masih terbatasnya aktivitas usaha hotel, restoran, dan kafe. Serta optimisme masyarakat untuk beraktivitas belum pulih

sepenuhnya menjadi penahan inflasi juga,” tambahnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini