Pedagang Besar Akan Libur, Harga Kebutuhan Pokok dan Inflasi Tetap Terkendali

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 30 Desember 2021 - 18:00
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Menjelang libur Tahun Baru, sejumlah pedagang besar/distributor berencana akan mengakhiri perdagangannya, dan berencana akan membuka kembali lapaknya pada hari Minggu (02/01/2022) mendatang. 

Jadi pada esok hari ada sekitar 30 persen hingga 40 persen distributor besar hortikultura di pasar induk tuntungan menutup dagangannya dan sebagian mungkin akan mengurangi jam operasionalnya.


Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, terkait hal itu,  pasokan barang akan mengalir seperti biasanya ke pasar tradisional (pengecer), itu terakhir pada hari jumat. 


Karena pasar induk tuntungan (Lau Cih) ini kan bukanya pada malam hari. Jadi stok masih akan normal hingga hari Jumat (31/12/2021). Namun ini bukan masalah besar dan bukan ancaman bagi kemungkinan terjadinya lompatan harga.


Pada dasarnya belanja masyarakat di tahun baru itu turun tajam. Belanja masyarakat mengalami titik tertingginya itu pada hari Kamis (30/12/21) ini. Sementara itu, seiring dengan kebijakan pemerintah kota medan yang akan memberlakukan penyekatan di malam tahun baru, membuat masyarakat yang berwisata akan keluar dari kota medan pada hari Jumat (31/12/21).


Gunawan mengungkapkan, pada hari Jumat atau H-1 sebelum Tahun Baru itu masyarakat akan melakukan banyak persiapan. Baik itu persiapan untuk keluar dari kota Medan, maupun persiapan untuk menyambut Tahun Baru di rumah. Disisi lain, petani juga tidak jauh berbeda. Banyak petani yang melakukan persiapan serupa di daerahnya masing masing.


"Tidak sedikit bahkan petani yang memanen tanamannya lebih dini untuk mendapatkan dana segar sebagai persiapan menghadapi tahun baru. Itulah mengapa sejumlah kebutuhan pangan hortikultura turun harganya dalam satu atau dia hari belakangan ini. Sebagai contoh, cabai merah yang harganya turun tajam di kisaran 20 ribu saat ini," ungkapnya.


Gunawan menuturkan, untuk stok akan mencukupi, kalaupun terjadi gejolak harga di Tahun Baru ini biasa. Tidak usah panik, pembeli dan penjual juga akan sangat sedikit yang melakukan transaksi dan tidak akan mengganggu kinerja inflasi. Desember 2021 ini meskipun diwarnai kenaikan harga kebutuhan pangan di sejumlah daerah di tanah air. Namun untuk Sumut inflasinya masih sangat terkendali.


Untuk harga daging ayam rata-rata di bulan ini mengalami kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Telur ayam naik sekitar 3.4 persen, bawang merah naik sekitar 11.6 persen, bawang putih naik sekitar 2.5 persen cabai rawit naik sekitar 37 persen. Sementara, minyak goreng rata rata naik sekitar 0.9 persen. Selain itu ikan segar, sejumlah sayur-sayuran, tiket pesawat juga mengalami kenaikan di bulan ini.



"Lebih lanjut, untuk harga cabai merah justru memberikan sumbangan deflasi di bulan ini. Cabai merah turun sekitar 25 persen di bulan Desember ini. Sehingga saya masih mempertahankan ekspektasi inflasi bulan desember ini yang tidak akan lebih dari 0.28 persen. Setelah Tahun Baru nanti, Januari 2022 sejumlah kebutuhan pangan berpeluang untuk mengalami penurunan.


Akan tetapi, dia belum melihat adanya potensi deflasi di Januari. Kenaikan harga rokok, LPG non subsidi, kemungkinan kebijakan pengendalian distribusi LPG subsidi, rencana kenaikan tarif listrik non subsidi, serta ancaman kenaikan bahan pangan dan energy dunia masih menghantui di tahun depan.


"Pengendalian inflasi terasa makin berat di tahun selanjutnya. Meskipun di Nataru atau sepanjang tahun 2022 ini Sumut masih mampu mengendalikan inflasi. Akan tetapi kemampuan ini bisa saja tertekan dengan sejumlah rencana kenaikan harga di tahun depan," ujar Gunawan. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini