Syaiful Syafri: Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dari MBKM Meningkatkan Wawasan dan Inovasi

Media Apa Kabar
Kali Dibaca
Foto: Drs Syaiful Syafri MM ketika memberi Kuliah Umum dan Bedah Buku Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil ( KAT ) Jembatan Masa Depan, didampingi Dosen Fakultas Tehnik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara  ( UMSU ) Rimbawati, ST, MT dan Irfan Nofri, ST sebagai Mentor MBKM, Sabtu Malam, 20/11.


Mediaapakabar.com - Pertukaran Mahasiswa Merdeka ( PMM )  dalam Program Merdeka Belajar dari Kampus Merdeka ( MBKM ) memberi dampak peningkatan wawasan dan inovasi dari masing masing mahasiswa dalam meningkatkan kualitas sumberdayanya secara mandiri atau secara bersama melalui transpormasi ilmu pengetahuan dan tehnologi Kebijakan Mendikbud Ristek No 3 Tahun 2020.

Masing masing para Mahasiswa akan merasakan transpormasi ilmu pengetahuan dan tehnologi yang diterima dari para Dosen dan sesama  Mahasiswa di Kampus tempat Mahasiswa mengikuti program PMM dalam MBKM, disamping menambah wawasan  tentang budaya Mahasiswa  dari masing masing daerah dan mengenal secara dekat adat istiadat dan kepribadian  Mahasisa itu sendiri.

Hal tersebut dijelaskan Drs Syaiful Syafri MM ketika memberi Kuliah Umum dan Bedah Buku Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil ( KAT ) Jembatan Masa Depan, didampingi Dosen Fakultas Tehnik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara  ( UMSU ) Rimbawati, ST, MT dan Irfan Nofri, ST sebagai Mentor MBKM, Sabtu Malam, 20/11.

Pj Bupati Batu Bara 2008 dan Mantan Kadis Pendidikan Sumut 2014 ini menjelaskan ia sangat bangga dapat memberi Kuliah Umum kepada  20 Mahasiswa dari Jawa Timur, Jakarta dan Jokjakarta prodi S1dari jurusan Akutansi, Hukum, Tehnik Impormatika, PPKN, Agrobisnis, Manajemen dan lainnya, berkaitan Modul Nusantara Pertukaran Mahasiswa Merdeka ( PMM ) dari MBKM, sesuai Surat Rektor UMSU Nomor 4554/2021 tertanggal 16 November,

Drs Syaiful Syafri MM menjelaskan sebagai tindak lanjut PMM dari MBKM ini, para Mahasiswa agar  menuliskan keseluruhan ilmu yang diperoleh  selama mengikuti PMM menjadi sebuah buku.

Contohnya, kata Mantan Kadis Sosial Sumut tahun 2010 ini bahwa ia di tahun 2000 an, dalam rangka menanggulangi kemiskinan sesuai Kepres Nomor 111 tahun 1999, Ia  masuk ke Desa Banua Siboau Silima Ewali Kecamatan Bawolato, Kabupaten Nias. Untuk sampai ke Desa ini kata Syaiful  harus berjalan kaki 8 jam, naik gunung, turun gunung, melewati rawa, dan menyebrangi sungai.

Didesa pedalaman ini, Saya belajar adat istiadat  suku setempat,i, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, asal usul masyarakat tinggal dihutan, pemukiman yang berjauhan, pendidikan, kesehatan, penerangan, infrastruktur, dan pemasaran hasil mata pencaharian dalam  pemberdayaan masyarakat, selama dua tahun,  sekaligus membangun kebutuhan layanan dasar masyarakat setempat.

Hasilnya saya tuliskan menjadi sebuah Buku, dengan judul Pemberdayaan KAT, Jembatan Masa Depan,  Intinya bahwa dengan pemberdayaan masyarakat ini,  terbangun kesejahteraan masyarakat, karena  masyarakat dapat hidup layak sebagai manusia, karena kubutuhan dasar terpenuhi.

Contoh lain Kata Syaiful Syafri, Ibu Rimbawati ST, MT bersama Mahasiswa Fakultas Tehnik UMSU, telah mampu memberi kesejahteraan masyarakat  Desa Miskin di Desa Pematang johar dengan pendapatan ratusan juta rupiah perbulan,  melalui inovasi dan pemanpatan tehnologi yang diperbaharuai dengan membentuk desa pariwisata diatas persawahan 10 hektar. Artinya Karya Ibu Rimbawati telah mampu meperbaiki kemiskinan masyarakat Desa dengan berbondongnya orang berwisata, sehingga kerajinan masyarakat terjual,  pertumbuhan ekomomi meningkat.

Ini juga telah dituliskan Ibu Rimbawati menjadi sebuah buku tanpa menggunakan banyak  refrensi, seperti saya menuliskan berbagai buku, karena Buku yang ditulis,  karya murni lpenulis yang di peroleh dari hasil kerja , hasil pemikiran  dan  inovasi penulis , selama mengabdi di pedesaan. (Mc/Red)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini