PBB Minta Myanmar Segera Bebaskan Semua Jurnalis

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : PBB menyerukan Myanmar untuk segera membebaskan semua pekerja media yang ditahan, setelah seorang jurnalis AS diganjar hukuman penjara 11 tahun. (AFP PHOTO/POOL/Fabrice Coffrini)

Mediaapakabar.comPBB menyerukan Myanmar untuk segera membebaskan semua pekerja media yang ditahan, setelah seorang jurnalis AS diganjar hukuman penjara 11 tahun pada Jumat (12/11/2021).

"Serangan terhadap jurnalis dan media semakin memperburuk kerentanan sebagian besar masyarakat yang bergantung pada informasi yang akurat dan independen," kata kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet, dalam sebuah pernyataan kepada AFP.


Pengadilan militer Myanmar menjatuhkan hukuman penjara 11 tahun kepada jurnalis Amerika Serikat yang ditangkap pada Mei lalu, Danny Fenster.


Media tempat Fenster bekerja, Frontier Myanmar, menyatakan bahwa jurnalis itu dinyatakan bersalah atas tuduhan penghasutan, pelanggaran imigrasi, dan asosiasi terlarang.


Thomas Kean, pemimpin redaksi Frontier Myanmar mengecam keputusan tersebut.


"Tak ada dasar (hukum) yang bisa menjerat Danny atas tuduhan ini," ujar Kean seperti dikutip Reuters, Jumat (12/11) sore.


"Kami hanya ingin menyaksikan Danny dibebaskan secepatnya, jadi dia bisa mengunjungi rumah keluarganya," ucap Kean.


Persidangan Fenster sendiri berlangsung secara tertutup. Juru bicara junta tak segera memberi komentar terkait keputusan itu.


Sebelum vonis dibacakan, Amerika Serikat juga menekan agar Fenster dibebaskan. Namun, sejauh ini, kedutaan AS di Myanmar belum memberi respons atas putusan tersebut.


Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS mengatakan penangkapan itu menunjukkan ketidakadilan. Mereka mendesak junta untuk membebaskan Fenster sesegera mungkin, juga beberapa jurnalis lainnya.


Fenster ditangkap junta saat mencoba lari dari negara itu pada Mei lalu. Ia kemudian ditahan di penjara Insein, Yangon.


Dia didakwa atas tuduhan hasutan, kekerasan, dan tindakan terorisme. Fenster merupakan jurnalis Barat pertama yang dibui junta militer sejak mereka mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari lalu.


Warga asal Amerika itu menjadi salah satu dari belasan jurnalis yang ditangkap di Myanmar usai protes meletus menyusul kudeta.


Tempo hari, pihak berwenang Myanmar memberi amnesti untuk sejumlah tahanan, tapi Fenster tak termasuk yang diberi ampunan.


Sejak kudeta, militer Myanmar menutup sejumlah media, memberlakukan pembatasan di internet dan siaran satelit serta menangkap lusinan jurnalis.


Juli lalu, komite perlindungan jurnalis menyatakan aturan militer Myanmar memang efektif mengkriminalisasi jurnalis independen. (CNNI/AFP)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini