Demo Tolak Aturan Pembatasan Covid-19 di Belanda Berujung Ricuh

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ilustrasi. Demo menolak aturan pembatasan kegiatan akibat lonjakan kasus Covid-19 di Belanda berujung ricuh. (AP/Peter Dejong)

Mediaapakabar.comKericuhan terjadi dalam aksi protes warga Belanda soal kebijakan pemerintah terkait pelarangan masuk ke ruang publik bagi mereka yang belum melakukan vaksinasi dan lockdown parsial untuk menekan lonjakan kasus Covid-19 pada Sabtu (20/11/2021) malam waktu setempat.

Bentrok antara massa dengan polisi pun tak bisa dihindari. Petugas menyerang kelompok demonstran di Den Haag dan menyemprotkan meriam air guna memadamkan tumpukan sepeda yang dibakar.


Imbas insiden itu, menurut kepolisian Den Haag, lima anggotanya dilaporkan mengalami luka-luka. Satu orang dibawa ke rumah sakit lantaran gegar otak, dua orang lain mengalami gangguan pendengaran akibat letusan kembang api.


Batu-batu yang dilempar para demonstran disebut menghancurkan jendela ambulans yang tengah melintas dan membawa seorang pasien.


Menurut saksi mata, protes itu dilakukan menentang aturan akses ke ruang publik dan lockdown.


"Orang-orang di sini memprotes 2G dan penguncian wilayah. Mereka marah karena itu," ujar pemilik toko pizza di Den Haag, Ferdi Yilmaz, kepada AFP dikutip dari CNNIndonesia.com.


Pada pekan lalu, Belanda kembali menerapkan penguncian wilayah selama kurang lebih tiga minggu. Pemerintah juga berencana melarang orang-orang yang belum mendapatkan vaksin memasuki ruang publik tertentu atau yang disebut 2G.


Toko milik Yilmaz juga terdampak atas kerusuhan yang terjadi. Menurut dia, polisi menyeret beberapa orang dari tokonya, memecahkan kaca di pintu depan, dan memukul tangannya tanpa alasan.


Menurut pantauan koresponden AFP, polisi berpakaian preman juga menangkap sejumlah orang di lingkungan kelas pekerja Schilderswijk, Den Haag. Selain itu, mereka juga menyeret seorang perempuan dari mobil.


Sebelumnya, ribuan warga berkumpul di Amsterdam untuk memprotes langkah yang diambil pemerintah, pada Sabtu (20/11). Aksi protes itu berlangsung damai.


Ribuan warga yang lain terlihat berjalan ke Breda, dekat perbatasan Belgia. Mereka membawa spanduk bertuliskan, "No Lockdown."


Koordinator aksi, Joost Eras, mengatakan bahwa mereka menantang rencana Perdana Menteri Belanda, Mark Rutter, yang melarang orang belum mendapatkan vaksin masuk ke bar dan restoran.


"Orang-orang ingin hidup, itu sebabnya kami di sini. Kami bukan perusuh, kami datang dengan damai," ujar Eras.


Suasana aksi itu tampak meriah, beberapa pengunjuk rasa menari di belakang kendaraan yang membawa seorang DJ. Namun, suasana berubah saat malam hari.


Selain di Den Haag, kerusuhan juga meletus di pusat kota Urk dan sejumlah kota di Provinsi Limburg.


Pada Jumat (19/11) malam, kerusuhan terjadi di kota Rotterdam. Saat itu, polisi melepas tembakan untuk meredam massa dan melukai tiga orang.


"Tiga perusuh terluka, ketika mereka kena peluru. Mereka masih di rumah sakit," terang perwakilan polisi Rotterdam.


Mereka juga mengatakan, penyelidikan akan segera dilakukan terkait korban luka apakah betul disebabkan peluru polisi atau bukan.


Secara keseluruhan, ada tujuh orang yang terluka, termasuk polisi, dalam aksi kerusuhan di Rotterdam.


Polisi juga menangkap 51 orang dari kerusuhan tersebut. Setengah dari mereka masih di bawah umur. Para demonstran itu berasal dari berbagai negara bagian.


Menurut pengakuan polisi, sebelumnya mereka telah melepas beberapa tembakan peringatan. Namun, situasi dinilai semakin tak terkendali sehingga harus menembak target.


Senada dengan kepolisian, Wali kota Rotterdam, Ahmed Aboutaleb mengecam apa yang disebutnya sebagai 'pesta pora kekerasan' itu.


"Polisi merasa perlu menarik senjata yang pada akhirnya untuk membela diri," kata Aboutaleb. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini