Pasar Keuangan Dalam Negeri Cetak Rekor, Bisnis Sekuritas Banjir Rejeki

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang hingga 16 September secara year-to-date (ydt) telah mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 503,8 triliun. Dengan capaian tersebut, perusahaan ini memiliki pangsa pasar sebesar 11,1%.

Mediaapakabar.com
Pasar keuangan khususnya pasar saham di dalam negeri kembali menggeliat di tahun ini. Hal tersebut terlihat dari jumlah nilai emisi untuk penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) dan rights issue yang mencapai rekor anyar.

Alhasil, perusahaan sekuritas pun turut kecipratan berkah. Bahkan beberapa perusahaan di sektor ini mencatatkan kinerja positif di tahun 2021.


Misalnya saja, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang hingga 16 September secara year-to-date (ydt) telah mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 503,8 triliun. Dengan capaian tersebut, perusahaan ini memiliki pangsa pasar sebesar 11,1%.


“Sepanjang tahun 2020, nilai transaksi kami hanya sebesar Rp 410 triliun dan memiliki 9,19% market share,” kata Head of Wealth Management Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fajrin Hermansyah dilansir dari Kontan.co.id, Minggu, 19 September 2021.


Tak hanya itu, di tahun ini, Mirae Asset Sekuritas juga sudah menyelesaikan lima IPO dengan total nilai penawaran sebesar Rp 433,32 miliar.


Adapun lima emiten tersebut, adalah Diagnos Laboratorium (DGNS), Berkah Beton (BEBS), Zyrexindo (ZYRX), Ultra Voucher (UVCR), dan Global Sukses Solusi (RUNS).


Sekadar informasi saja, sepanjang tahun 2021 ini, sudah ada 38 perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. Total nilai emisinya pun mencapai Rp 32,14 triliun. Jumlah ini adalah terbesar sejak 1977.


“Rencana masih ada (IPO) tapi tidak bisa saya disclose lebih jauh,” imbuh Fajrin.


Dengan capaian Mirae Asset tersebut, pendapatan perusahaan pun turut mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada paruh pertama tahun ini. Tercatat, di semester I-2021, pendapatan usaha Mirae Asset melesat 143,27% yoy menjadi Rp 477,22 miliar.


Hal yang sama juga dialami oleh Mandiri Sekuritas. Sepanjang paruh pertama tahun ini, pendapatan usaha perusahaan mencapai Rp 465 miliar atau meningkat 61% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.


“Jumlah nasabah juga meningkat 73% per 30 Juni 2021 dibanding periode yang sama tahun 2020. Ini didukung oleh perubahan gaya hidup masyarakat dari tradisional ke digital selama pandemi Covid-19,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silva Halim.


Di enam bulan pertama tahun 2021, perusahaan juga telah menyelesaikan 15 penjaminan obligasi dengan denominasi rupiah. 


Diantaranya ada Aneka Gas Industri, Pembangunan Jaya Ancol, dan Pegadaian.

Selain itu, Mandiri Sekuritas juga tangani tujuh penjaminan global bond, antara lain milik Golden Energy, Indofood, Sarana Multi Infrastruktur, Bank Mandiri, dan Pertamina. 


Perusahaan juga menangani dua rights issue milik Summarecon dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk.


Anak usaha dari Bank Mandiri ini juga menangani penawaran umum saham perdana atau IPO dari Archi Mining.


Nah, pada semester dua ini, Mandiri Sekuritas akan terus berfokus pada pengembangan bisnis retail yang berkelanjutan melalui inovasi layanan teknologi digital; Mandiri Online Securities Trading (MOST), memperkuat posisi di industri pasar modal Indonesia dan regional Asia, serta bersinergi dengan Mandiri Group.

Tak mau kalah, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk yang 9,85% sahamnya dimiliki oleh Union Sampoerna yang masuk dalam HM Sampoerna Group juga mencatat kinerja yang positif.


“Transaksi kami meningkat lebih dari 30% dan itu mayoritas dari ritel online dan offline,” ujar Presiden Direktur Trimegah Sekuritas Stefanus Turangan.


Dia menambahkan, peningkatan transaksi tersebut juga dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah investor individu yang meningkat pesat.


Berdasarkan data bursa efek, pada periode Januari-Juni 2021, Trimegah telah melakukan transaksi sebesar Rp 45,35 triliun dengan memiliki kontribusi sebesar 1,38% terhadap seluruh transaksi saham di periode tersebut.


Namun, hingga saat ini, Trimegah belum mengantarkan satupun perusahaan untuk melakukan IPO. Hanya saja, Trimegah mengungkapkan, tengah melakukan proses untuk empat perusahaan yang akan go public di tahun ini.


“Yang kami lakukan baru rights issue, yaitu Bank Jago senilai Rp 7 triliun dan Asuransi Jasa Tania sebesar Rp 100 miliar,” pungkas Stefanus. (KC/MC)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini