Selama Pandemi, Menaker Ajak Anggota ASEAN Lindungi Pekerja Perempuan

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah (ANTARA/HO-Kementerian Ketenagakerjaan)

Mediaapakabar.comMenteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengajak negara-negara anggota ASEAN untuk memberikan perhatian terkait isu perlindungan pekerja perempuan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di masa pandemi COVID-19.

"Perlu adanya kerja sama antara anggota ASEAN dengan mitra sosial lainnya untuk meningkatkan perlindungan angkatan kerja perempuan, serta mewujudkan upaya konkret ASEAN terhadap pencapaian SDGs terkait isu-isu terkait gender dan pemberdayaan perempuan," kata Ida dalam keterangan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang diterima di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Minggu, 29 Agustus 2021.


“Ini suatu cara yang tepat untuk meningkatkan peran dan perlindungan angkatan kerja perempuan dalam mendukung pemulihan ekonomi selama masa pandemi,” ujarnya.


Menaker Ida menyatakan adanya komitmen bersama mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Global (Sustainabale Development Goals/SDGs) tentang gender dan pemberdayaan perempuan.


Isu perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta gender juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemulihan kondisi sosial dan ekonomi dari krisis COVID-19.


Sebagai salah satu kelompok rentan di masa pandemi, jelas Ida, perlu adanya peningkatan perhatian terkait peran dan perlindungan perempuan oleh para pemangku kepentingan ketenagakerjaan.


Selain itu, perlu langkah-langkah peningkatan peran dan perlindungan angkatan kerja perempuan dalam pemulihan ekonomi negara-negara ASEAN yang didirikan pandemi COVID-19.


Dia mengingatkan bahwa berdasarkan laporan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) pekerja perempuan di kawasan Asia Pasifik memiliki krisis secara tidak proporsional. Artinya, perempuan yang kehilangan pekerjaan lebih besar daripada laki-laki.


"Berbagai alasan menyebabkan kerugian bagi pekerja perempuan karena sebagian besar perempuan di kawasan Asia Pasifik bekerja di sektor-sektor yang sangat terpengaruh oleh krisis," ujarnya. ( Semut / MC )

Share:
Komentar

Berita Terkini