AS Ubah Operasi Evakuasi di Bandara Kabul Terkait Ancaman ISIS

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Tentara AS penyimpanan proses pengiriman di bandara Kabul, Afghanistan (dok. AP/detikcom)

Mediaapakabar.com
Potensi ancaman militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memaksa Amerika Serikat (AS) mengubah cara mengevakuasi dari warganya dari Afghanistan usai Taliban berkuasa. Disebutkan bahwa peluang meningkat bagi ISIS untuk mengganggu proses yang terus berlangsung di bandara Kabul.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (23/821), Presiden Joe Biden dalam pernyataan di Gedung Putih pada Minggu (20/8) waktu setempat mengakui bahwa ISIS memberikan ancaman saat proses terjadinya warga AS dan warga Afghanistan tengah berlangsung.


Oleh karena itu, ISIS merupakan 'musuhbuyutan Taliban' dan menyatakan bahwa semakin lama tentara AS berada di wilayah Afghanistan maka semakin meningkat peluang bagi ISIS untuk serangan terhadap personel militer AS dan warga sipil yang berkumpul di Kabul.


Dilaporkan dari detikcom, Senin, 23 Agustus 2021, aliansi Besar AS di Kabul telah merilis peringatan, pada Sabtu/8/2021, waktu setempat (21) terhadap seluruh warga AS di Afghanistan untuk menghindari lokasi ke bandara karena ada tentang militan ISIS. Warga diimbau tidak datang ke bandara tanpa mendapat instruksi dari perwakilan pemerintah AS.


Disebutkan nomor pejabat AS yang enggan disebut namanya bahwa sekelompok kecil warga AS dan warga sipil lainnya akan mendapat instruksi khusus tentang apa yang harus dilakukan, termasuk pergerakan ke titik-titik transit di mana mereka akan dikumpulkan oleh militer AS terlebih dahulu.


Perwakilan otoritas AS menolak untuk menjelaskan lebih lanjut tentang ancaman ISIS tersebut, namun menyatakan bahwa ancaman itu signifikan. Mereka menyebut belum ada serangan yang terkonfirmasi sejauh ini.


di balik itu ISIS telah sejak lama menyatakan keinginan untuk menyerang AS dan kepentingan AS di luar negeri. ISIS disebut aktif di Afghanistan selama beberapa tahun terakhir, dengan rentetan serangan yang menimpa kaum minoritas Syiah di negara tersebut.


Kelompok militan ini telah berulang kali menjadi target serangan udara AS dalam beberapa tahun terakhir dan juga menghadapi serangan Taliban.


Para pejabat AS menyebut kelompok ISIS masih aktif di wilayah Afghanistan, dan AS khawatir kelompok itu akan mengumpulkan kekuatan baru yang lebih besar saat Afghanistan berada di bawah kepemimpinan Taliban yang memicu perpecahan.


Sementara itu, meski ada peringatan dari kedutaan AS, orang masih berkumpul di luar bandara Kabul.


Biden menyebut sekitar 11.000 orang telah dievakuasi dari Kabul sepanjang akhir pekan. Dia menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah membantu seluruh warga AS keluar dari Afghanistan 'secepat dan seaman mungkin.


"Kami berupaya keras dan secepat mungkin yang bisa kami lakukan untuk mengevakuasi orang-orang. Itu misi kami. Itu tujuan kami," tegasnya, sambil menyatakan dirinya mengaktifkan armada udara cadangan yang diberikan maskapai komersial untuk membantu mendukung dari negara ketiga ke AS. ( DTC/MC )

Share:
Komentar

Berita Terkini