Deretan Negara Asia yang Lockdown Imbas Dikepung COVID-19

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ilustrasi. (AP/Vincent Thian)

Mediaapakabar.com
Sederet negara di kawasan Asia, mulai dari Jepang hingga Malaysia, memperketat aturan pergerakan warganya di tengah kepungan Covid-19 dalam beberapa waktu belakangan.

Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah negara memperketat aturan di tengah lonjakan Covid-19, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Thailand. 


Di Asia Pasifik, beberapa negara juga memperketat larangan pergerakan warganya demi membendung gelombang baru pandemi Covid-19, seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, India, hingga China. 


Kebanyakan negara mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat kemunculan corona varian Delta. Varian yang pertama kali ditemukan di India itu memang lebih menular ketimbang virus corona lainnya. 


Berikut daftar negara Asia yang memperketat aturan pergerakan warganya karena lonjakan Covid-19 dilansir dari CNNIndonesia.com, pada Sabtu, 10 Juli 2021.


Asia Tenggara 


Malaysia 

Sementara Indonesia menerapkan PPKM Darurat, Malaysia sudah lebih dulu memberlakukan lockdown nasional sejak 1 Juni lalu. 


Lockdown tersebut berlaku beberapa hari setelah Malaysia mencatat rekor Covid-19 tertinggi saat itu, yaitu hingga 9.020 kasus sehari pada 29 Mei. Hingga kini, lockdown tersebut masih berlaku. 


Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa mereka tak akan mencabut lockdown sebelum kasus harian Covid-19 belum di bawah 4.000. 


Di awal pemberlakuan lockdown, kasus Covid-19 di Malaysia memang sempat turun. Namun kemudian, infeksi corona kembali melejit beberapa hari terakhir. Pada Jumat (9/7/2021), Negeri Jiran kembali mencatat rekor kasus Covid dengan 9.180 infeksi corona baru dalam 24 jam. 


Malaysia pun mengimbau agar warga tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat demi meredam laju penambahan Covid-19. 


Vietnam 

Di Vietnam, pemerintah juga memberlakukan lockdown di Kota Ho Chi Minh selama dua pekan mulai Jumat (9/7/2021) akibat lonjakan kasus Covid-19. 


Kota pusat ekonomi di Vietnam itu sebelumnya menerapkan pembatasan mobilitas penduduk selama dua bulan. Namun, akibat lonjakan infeksi Covid-19, Vietnam memperketat memutuskan menerapkan lockdown. 


Sejauh ini, Ho Chi Minh mencatat lebih dari 9.400 kasus Covid-19. Baca juga: Vietnam Lockdown Ho Chi Minh Akibat Lonjakan Covid-19 Vietnam juga memberlakukan penyekatan arus mobilitas penduduk dari dan menuju Ibu Kota Hanoi mulai Kamis (8/7) akibat lonjakan Covid-19. 


Sebagaimana dilansir Reuters, transportasi umum yang menghubungkan 14 provinsi zona merah Covid-19 menuju Hanoi untuk sementara tidak diperbolehkan beroperasi. Selain itu, pemerintah Ibu Kota Hanoi meminta penduduk untuk sementara tak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. 


Myanmar

Sejak akhir Juni lalu, Rezim junta militer Myanmar menerapkan aturan lockdown di sejumlah daerah di perbatasan dengan China karena peningkatan penularan Covid-19. The Irrawaddy melaporkan bahwa Myanmar mulai memberlakukan lockdown di sejumlah daerah di negara bagian Shan sejak awal pekan ini. 


Daerah Kokang mulai menerapkan aturan tak boleh keluar rumah pada Senin (28/6), setelah pihak berwenang melaporkan lebih dari 100 kasus Covid-19 baru selama 10 hari sebelumnya. 


Sebelum Kokang, kawasan Lashio juga memberlakukan lockdown pada Minggu (27/6), ketika kasus Covid-19 di daerah itu bertambah 300 dalam sehari. 


Thailand 

Thailand juga memberlakukan aturan pembatasan baru yang berlaku di sekitar ibu kota, Bangkok, dalam upaya untuk mengatasi pandemi Covid-19 terburuk di negara itu. Aturan ini mulai berlaku 30 hari sejak Senin (28/6/2021). 


Berdasarkan aturan ini, pemerintah melarang warga makan di restoran di Bangkok dan lima provinsi sekitarnya. Pusat perbelanjaan di Bangkok dan lima provinsi itu juga harus tutup pada pukul 21.00. Pesta, perayaan, atau kegiatan yang melibatkan pertemuan lebih dari 20 orang juga tak diperbolehkan.


[cut]

Ket Foto : Ilustrasi. (AP/Vincent Thian)

Asia Pasifik Tercekik COVID-19 


Jepang 

Kondisi pagebluk di Jepang juga menjadi perhatian internasional, terutama karena Olimpiade yang sudah tertunda sejak tahun lalu bakal digelar di Tokyo pada 23 Juli mendatang. 


Pada Kamis (8/7/2021), Jepang akhirnya mendeklarasikan status darurat Covid-19 di Tokyo hingga 22 Agustus mendatang, yang membuat Olimpiade bakal digelar tanpa kehadiran penonton. 


Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, mengatakan bahwa pemerintah harus mengambil tindakan ini karena Covid-19 di ibu kota negara itu terus melonjak dalam beberapa waktu terakhir. 


"Kami harus memperkuat upaya pencegahan. Melihat situasi ini, kami akan mendeklarasikan status darurat untuk Tokyo," ujar Suga, sebagaimana dikutip Reuters. 


Menteri Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Pandemi Jepang, Yasutoshi Nishimura, mengatakan bahwa berdasarkan aturan darurat Covid, penonton semua pergelaran akan dibatasi hanya 5.000 orang atau 50 persen dari kapasitas lokasi. 


Selain pembatasan penonton, acara-acara besar seperti konser dan konferensi juga harus berakhir pukul 21.00. Tak hanya itu, dengan aturan darurat Covid-19 ini, pemerintah juga melarang penjualan alkohol di bar dan restoran. 


Tempat-tempat makan itu juga harus tutup pukul 20.00. Suga mengatakan bahwa pemerintah akan mempertimbangkan pencabutan status darurat ini "jika dampak vaksin sudah terlihat jelas dan ada perkembangan situasi terkait ketersediaan tempat tidur di rumah sakit." 


Saat ini, Jepang memang sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19, terutama karena kemunculan corona varian Delta di Tokyo. "Karena pergerakan orang meningkat, varian Delta kini mencakup sekitar 30 persen kasus [Covid di Tokyo]," kata Nishimura. 


Korea Selatan 

Korea Selatan menerapkan larangan pergerakan tingkat tinggi di Seoul setelah ibu kota negara itu mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang sudah mencapai "level krisis maksimum." 


Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa larangan tersebut akan berlaku selama dua pekan terhitung mulai Senin (12/7) mendatang. 


Sebagaimana dilansir AFP, dengan pemberlakuan aturan tersebut, pemerintah Korsel melarang perkumpulan lebih dari dua orang mulai pukul 18.00. Sekolah-sekolah akan ditutup, sementara kafe dan restoran akan dibatasi. 


Layanan makan di tempat bakal dilarang setelah pukul 22.00. Sementara itu, tempat-tempat hiburan, seperti bar dan kelab malam, akan tutup total. Semua acara publik juga dilarang, kecuali aksi protes yang dilakukan oleh satu orang.


Australia 

Australia juga terus memperpanjang masa pemberlakuan lockdown di Sydney dan sejumlah daerah lainnya karena kasus Covid-19 di wilayah itu tak kunjung reda. Lockdown di Sydney sudah berlaku sejak 26 Juni. 


Status itu seharusnya berakhir pada Jumat (9/7), tapi diperpanjang hingga 16 Juli. "Virus varian Delta ini menjadi pembeda, sangat mudah menyebar dan menular dibanding varian sebelumnya yang kami ketahui," kata Menteri Besar New South Wales, Gladys Berejiklian. 


Akibat perpanjangan masa lockdown, seluruh sekolah di Sydney akan memulai pembelajaran jarak jauh pekan depan, setelah masa libur musim dingin demi menghindari kerumunan antar jemput. Sampai saat ini, secara keseluruhan jumlah kasus infeksi Covid-19 di Australia mencapai 30.800, dengan 910 orang di antaranya meninggal. 


China 

Pemerintah China juga menerapkan lockdown total di Ruili, kota kecil yang berbatasan langsung dengan Myanmar, akibat gelombang keempat penularan Covid-19. 


Lockdown Ruili mulai berlaku sejak awal pekan ini. Pihak berwenang China memerintahkan penduduk Ruili mengisolasi diri di rumah masing-masing dalam beberapa hari ke depan. 


Selain perintah diam di rumah, pihak berwenang China juga menutup seluruh bisnis dan sekolah. Namun, beberapa pasar, supermarket, apotek, hingga rumah sakit tetap diizinkan buka. Aparat juga melarang warga melakukan "perjalanan yang tidak penting" hingga pemberitahuan lebih lanjut. 


Pemerintah hanya mengizinkan satu anggota keluarga dari setiap rumah tangga bepergian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meski tetap dengan izin selama masa lockdown. Setiap warga yang ingin meninggalkan Kota Ruili harus menunjukkan hasil negatif tes virus corona dalam 72 jam terakhir. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini