Demo Tolak PPKM Bergemuruh di Bandung: Pelan-pelan Kita Mati

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ratusan warga Bandung dari kalangan mahasiswa, pelajar, ojek online, hingga pedagang turun ke jalan menggemakan penolakan PPKM yang menyengsarakan rakyat. (CNNIndonesia.com)

Mediaapakabar.com
Ratusan orang menggelar aksi demonstrasi menolak penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Kota Bandung, Rabu (21/7/2021).

Massa yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, ojek online, dan pedagang menggelar aksi tolak PPKM tersebut di Balai Kota, Bandung. 


Mereka menilai pemberlakuan PPKM yang dilakukan mulai dari pusat hingga daerah dianggap tidak berdampak terhadap pengendalian Covid-19 dan malah menyengsarakan masyarakat.


Dilansir dari CNNIndonesia.com, massa aksi mulai mendatangi Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana sekitar pukul 12.00 WIB.


Mereka tampak membawa spanduk dan poster berisi protes PPKM darurat. 'Bandung sekarat, Wali Kota ngapain? PPKM membuat rakyat melarat' bunyi pesan dari spanduk yang dibentangkan massa aksi.


Peserta aksi juga tampak membentangkan poster berisi tulisan 'PPKM (Pelan-pelan Kita Mati)'.


Tak sampai di situ, massa aksi menggelar orasi memprotes penerapan PPKM. Mereka lantas bergemuruh meneriakkan 'Tolak, tolak, tolak PPKM. Tolak PPKM sekarang juga'.


Para demonstran mengungkapkan PPKM telah merampas hak hidup masyarakat tidak hanya di Ibu Kota tetapi juga di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Bandung. Kebijakan PPKM dianggap mematikan perekonomian di daerah.


Putra (28), salah seorang pedagang di pusat perbelanjaan elektronik yang mengikuti aksi demonstrasi mengatakan PPKM telah menyengsarakan dirinya karena tidak bisa berjualan selama lebih dari dua pekan.


"Kami sangat dirugikan sebagai pedagang khususnya pedagang BEC. Kontrakan tetap harus dibayar, tidak ada keringanan, apakah ini solusinya? Ada aturan harusnya ada solusi istri," kata Putra.


Menurut Putra, langkah pemerintah dan pihak kepolisian menutup jalan telah memutus perekonomian. Akibatnya, istri dan anaknya menderita kelaparan.


"Istri dan anak kami harus makan sementara bapak digaji enak. Penutupan jalan tidak efektif bagi kami," ujarnya.


Hal senada juga dikeluhkan ojek online. Galih Azka (30) mengaku pendapatannya berkurang lantaran biaya bahan bakar naik daripada biasanya


"Jalan ditutup kita tambah susah. Habis bensin banyak, kalau biasa Rp20 ribu, sekarang harus keluarin Rp35 ribu," tuturnya.


Galih berharap pemerintah membuka akses jalan agar pendapatannya kembali naik.


"Saat PPKM sehari dapat Rp32 ribu, padahal biasa bisa sampai Rp100 ribu lebih," ucapnya.


Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menegaskan PPKM darurat akan dilonggarkan hanya jika kasus Covid-19 turun.


"PPKM Darurat baru akan dilonggarkan bertahap apabila tren kasus Covid-19 menurun," tulis Jokowi lewat akun Twitter @jokowi.


PPKM Darurat seharusnya berakhir kemarin, Selasa (20/7/2021). Namun pemerintah melakukan perpanjangan hingga 25 Juli. Presiden Jokowi menyebut pemerintah akan melakukan pelonggaran bertahap jika kasus menurun dalam lima hari ke depan. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini