Berkas Banding Perkara Penggelapan Rp3,6 Miliar Belum Dilimpahkan, PN Medan Mengaku Lalai

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca

Ket Foto : Abang beradik yakni Tanuwijaya Pratama alias Awi dan Robert Sulistian alias Atak saat mendengarkan putusan di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan beberapa waktu lalu.


Mediaapakabar.com
Perkara dugaan penggelapan Rp3,6 miliar dengan terdakwa abang-beradik yakni Tanuwijaya Pratama alias Awi dan Robert Sulistian alias Atak hingga saat ini proses banding tak kunjung dilimpahkan ke Pengadilan Tinggi (PT) Medan.

Padahal, perkara yang telah diputus pada 25 Mei 2021 lalu, pada tingkat pertama di Pengadilan Negeri (PN) Medan telah menjatuhkan vonis penjara selama 18 bulan.


Dari penelusuran yang dilakukan, pihak Pengadilan Negeri Medan mengaku berkas memori banding yang diajukan terdakwa dan Kejaksaan telah didaftarkan.


Pegawai panitera pidana pada bidang banding, David yang ditemui wartawan, Kamis (8/7/2021) menyebut, bahwa ada kelalaian yang terjadi sehingga berkas memori banding belum dikirim ke PT.


Dirinya menyebut, pihaknya hingga saat ini belum menyerahkan memori banding yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya ke pihak Kejaksaan. Sedangkan memori banding yang diajukan Jaksa telah lebih dahulu diserahkan ke pihak terdakwa.


"Memang berkas memori banding dari terdakwa belum kita serahkan kepada kejaksaan. Maklum lah kami sibuk hingga kami lalai untuk menyerahkannya," ujarnya.


Dan, berkas banding baru dapat dilimpahkan ke PT apabila memori banding dari terdakwa telah diterima kejaksaan.


"Kami janji hari ini akan kami upayakan untuk menyerahkan ke jaksanya langsung. Setelah itu baru kita jilid sebelum dilimpahkan ke PT," tukasnya.


Kelalaian yang disebutkan sehingga menyebabkan proses pelimpahan kasus banding tidak dilimpahkan lebih kurang satu bulan ini, membuat kuasa hukum korban, Baginta Simanihuruk dari kantor pengacara Supri Silalahi & sekutu kecewa.


"Pengakuan pihak PN ini jelas membuat pencari keadilan kecewa. Padahal secara administrasi sudah dipenuhi. Kalau begini jelas kita meragukan kinerja mereka," jelasnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, 

Pengadilan Negeri Medan pada Mei lalu, menjatuhkan vonis penjara kepada kedua terdakwa selama 18 bulan penjara dengan dakwaan subsidair serta melanggar Pasal 372 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. 


Dalam dakwaan JPU Fransiska Panggabean, pada Maret 2016 di di Rumah Makan Uda Sayang Jalan Gunung Krakatau Medan, Tanuwijaya Pratama bersama Robert Sulistian membujuk Rudy (korban) agar kerjasama investasi modal usaha di perusahaan CV Permata Deli dan dijanjikan pembagian keuntungan sebesar 33 persen. 


Perusahaan tersebut bergerak pada bidang mebel dan furniture. "Kepada Rudy, kedua terdakwa juga berjanji akan membuka perusahaan yang baru dan akan mengalihkan modal Rudy ke perusahaan baru tersebut untuk mempermudah pembukuan serta perhitungan keuntungan perusahaan meubel yang akan  dijalankan kedua terdakwa," ujar JPU. 


Akibat kata-kata yang diucapkan kedua terdakwa, membuat Rudy jadi tergiur dan mau kerjasama investasi modal dengan memberikan uang serta barang senilai total Rp 3.610.000.000. Uang itu diberikan beberapa tahap sejak Maret 2016 sampai Mei 2017. 


Kemudian, kedua terdakwa mempergunakan modal investasi yang diberikan Rudy tersebut untuk biaya operasional CV Permata Deli, bayar hutang, bayar sewa gudang di Jalan Jala Empat Nomor 88 Kelurahan Enam Ratus Kecamatan Marelan, renovasi gudang, pembelian mesin pembuatan pabrik perabot dan meubel, sewa dan renovasi ruko tiga pintu di Jalan Yos Sudarso, bayar down payment (DP) pembelian dua unit mobil pick up, kebutuhan perputaran modal usaha serta kebutuhan pribadi kedua terdakwa. 


"Pada Mei 2017, Rudy menemui kedua terdakwa dan menanyakan tentang pembukuan serta laporan keuangan usaha yang mereka jalankan. Namun ternyata, kedua terdakwa tidak dapat menunjukkannya. Akhirnya diketahui bahwa ternyata selama ini kedua terdakwa telah melakukan rangkaian kebohongan kepada Rudy," cetus Fransiska. 


Seperti nama Rudy tidak dimasukkan menjadi pesero pengurus pada CV Permata Deli. Lalu, kedua terdakwa juga tidak ada mengalihkan modal Rudy tersebut ke perusahaan yang baru. Selanjutnya, kedua terdakwa tidak pernah memberikan keuntungan sebesar 33 persen kepada Rudy sebagaimana yang dijanjikan. 


Mengetahui perbuatan kedua terdakwa tersebut, Rudy meminta agar semua uang modal yang diberikan untuk segera dikembalikan. Mendengar itu, kedua terdakwa berjanji akan mengembalikan semua modal Rudy selama 18 bulan yang dimulai pada tanggal 27 Januari 2018 sampai 27 Juni 2019 dengan jumlah pengembalian setiap bulannya sebesar Rp 200.000.000. 


Dengan sarana pembayaran 18 lembar bilyet giro Panin Bank sesuai Surat Perjanjian Penitipan Uang dan Barang tanggal 22 Agustus 2017 yang dibuat oleh kedua terdakwa. Namun, kedua terdakwa kembali berbohong karena dana dalam rekening gironya tidak cukup untuk melakukan pembayaran/kliring atas bilyet giro tersebut. 


"Sehingga setelah dilakukan kliring oleh Rudy, ternyata yang dapat dicairkan hanya satu bilyet giro. Sedangkan sisanya tidak dapat dicairkan dengan alasan dana tidak cukup. Akibat perbuatan kedua terdakwa, Rudy mengalami kerugian sebesar Rp 3.610.000.000," tandas JPU Fransiska Panggabean. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini