-->
    |
Follow Us :

Gelapkan Uang Nasabah Rp 25 Miliar Lebih, Direktur PT TPI Dituntut 7 Tahun Penjara

Kali Dibaca

Ket Foto : Direktur PT. Timur Property Investindo (TPI) The Antonius Fregianto alias Egi (kanan) dan Inee Irina Luhulima selaku Ketua I Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia saat mendengarkan tuntutan JPU di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan.


Mediaapakabar.comDirektur PT. Timur Property Investindo (TPI) The Antonius Fregianto alias Egi (51) dituntut pidana penjara selama 7 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Sumatera, Anita SH.

JPU menilai warga Jalan Taman Alfa Indah, Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat ini bersalah melakukan penggelapan berkedok koperasi yang menyebabkan korban mengalami kerugian hingga Rp25 miliar lebih.


Sidang yang beragendakan pembacaan tuntutan tersebut dibacakan JPU pengganti Randi Tambunan di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan, Selasa 27 April 2021.


"Meminta kepada majelis hakim agar menjatuhkan hukuman kepada terdakwa The Antonius Fregianto alias Egi dengan pidana penjara selama 7 tahun," ujar JPU Randi Tambunan di hadapan majelis hakim Hendra Sutardodo.


JPU menilai perbuatan terdakwa melanggar Pasal 46 ayat (1) jo ayat (2) UU No 10 tahun 1998 Tentang Perubahan UU No 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dan Pasal 372 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. 


Selain terdakwa Fregianto, JPU juga menuntut terdakwa Inee Irina Luhulima selaku Ketua I Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia dengan pidana selama 8 tahun penjara. Selain itu, dia juga didenda sebesar Rp10 miliar subsider 3 bulan kurungan. 


Menurut JPU, perbuatan keduanya mengutip uang dari masyarakat tanpa izin. Usai mendengarkan tuntutan JPU, majelis hakim memberikan kesempatan kepada para terdakwa melalui penasihat hukumnya untuk menyampaikan nota pembelaan (pledoi) pada sidang selanjutnya. 


Mengutip surat dakwaan JPU Anita mengatakan Direktur PT Timur Property Investindo (TPI), The Antonius Fregianto alias Egi didakwa atas kasus penggelapan berkedok koperasi, yang menyebabkan nasabah merugi puluhan miliar rupiah. 


Singkat cerita, pada sekitar bulan Maret 2016, saksi korban Amelia Kosasih yang sudah mengenal saksi Nelly yang sebelumnya bekerja sebagai branch manager bank danamon medan, menawarkan investasi yang sangat menguntungkan. 


Atas tawaran dari saksi Nelly tersebut, saksi korban Amelia Kosasi lalu menyimpan dana awal di Koperasi Jasa Timur Pratama Indonesia sebesar Rp1 miliar. 


Sampai dengan bulan Mei 2020, saksi korban Amelia Kosasih sudah menyimpan dananya ke rekening Koperasi Jasa Timur Pratama/Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia sejumlah Rp20.219.383.728. Begitu juga dengan saksi Darius Afrizal Syahputra yang sudah menyimpan dana di Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia terhitung sejak bulan September 2016 sampai bulan September 2019 senilai Rp5 miliar. 


Namun, terdakwa atas inisiatifnya merubah nama dari Koperasi Jasa Timur Pratama Indonesia menjadi Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia pada 19 Juli 2018. Kemudian, terdakwa mengalihkan seluruh dana yang tersimpan di rekening Bank BCA ke PT TPI dan sepengetahuan saksi Erik Harjono dan Erwin Soeyanto selaku Komisaris PT TPI. 


Pengiriman atau pengalihan dana tersebut, tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan dari para masyarakat yang menyimpan dana di Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia. 


Ternyata, terdakwa bersama-sama dengan saksi Erik Harjono dan Erwin Soeyanto tidak ada memiliki ijin usaha (ilegal) dalam kegiatan usaha simpan pinjam yang dilakukan oleh Koperasi Simpan Pinjam Timur Pratama Indonesia. 


Bahwa atas perbuatan terdakwa bersama-sama dengan saksi Inne Irena Luhulima dan lainnya, mengakibatkan korban mengalami kerugian setidak-tidaknya Rp. 25.219.383.728 milik saksi korban Amelia Kosasih dan saksi Darius Aprizar Syahputra. (MC/DAF)

Komentar

Berita Terkini