-->
    |
Follow Us :

Bandar 2.000 Butir Pil Ekstasi Asal Tanjung Balai Dituntut 14 Tahun Penjara

Kali Dibaca
Ket Foto : Jaksa Penuntut Umum saat membacakan tuntutan di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri Medan. 


Mediaapakabar.comSeorang bandar narkoba jenis pil ekstasi sebanyak 2.000 butir ekstasi asal Tanjung Balai, Gimin Simatupang (49) dituntut pidana penjara selama 14 tahun. 

"Meminta kepada majelis hakim agar menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Gimin Simatupang dengan pidana penjara selama 14 tahun," kata JPU Novrika di hadapan majelis hakim yang diketuai Dahlia Panjaitan di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri Medan, Jumat 16 April 2021.


Selain pidana penjara, JPU juga membebankan terdakwa membayar denda Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan digantikan pidana penjara selama 6 bulan.


Sidang yang digelar secara video conference tersebut, pria tamatan SMA ini dinilai JPU Novrika terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.


"Yakni Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika, yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman beratnya lebih dari 5 gram," ujar JPU.


Dalam nota tuntutan JPU,  hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana narkotika. Terdakwa sudah pernah dihukum dan berbelit-belit di persidangan. 


"Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan," tandasnya. 


Sementara rekan terdakwa, Ahmad Dhairobi alias Robi (berkas terpisah) justru dituntut lebih ringan. Terdakwa Dhairobi dituntut pidana selama 11 tahun penjara denda Rp1 miliar subsider 6 bulan penjara. 


Usai mendengarkan tuntutan, majelis hakim diketahui Dahlia Panjaitan memberikan kesempatan kepada penasihat hukum terdakwa untuk menyampaikan nota pembelaan (pledoi) kedua terdakwa, pada sidang pekan depan. 


Mengutip surat dakwaan JPU Novrika mengatakan kasus bermula pada 15 Oktober 2020, saat dua anggota kepolisian yang menyamar menghubungi Ahmad Dhairobi, untuk membeli 1.000 butir ekstasi. Robi kemudian bertemu dengan kedua polisi yang menyamar tersebut. 


Saat itu, petugas meminta agar terdakwa Robi menyiapkan 2.000  butir ekstasi dengan uang cas. Tergiur dengan uang cas, terdakwa kemudian setuju dan ekstasi dijanjikan esok harinya. Setelahnya, Robi menghubungi Mukmin Mulyadi (DPO) mengatakan ada calon pembeli yang memesan 2.000 ekstasi. 


Kemudian, Robi menemui Mukmin di sebuah gudang yang terletak di Jalan  Sudirman Tanjungbalai. Dari hasil pembicaraan, 2.000 butir ekstasi ternyata milik terdakwa Gimin Simatupang. Setelah itu, Gimin menyerahkan 2.000 butir ekstasi itu kepada Mukmin di sebuah gudang. 


Kemudian, petugas yang menyamar kembali menghubungi Robi dan sepakat untuk melakukan transaksi di Jalan Batu Tujuh. Setelah bertemu, Mulyadi yang memegang barang haram tersebut meminta agar Robi membawa calon pembeli itu ke sebuah tempat pembuangan akhir (TPA). 


Setelah tiba di lokasi, Robi lantas menemui calon pembeli yang berada di dalam mobil. Sementata Mukmin dan Gimin mengikuti dari belakang dengan mengendarai sepeda motor. Setelah menyerahkan plastik berisikan ekstasi, petugas langsung menangkap Robi. 


"Petugas kemudian melakukan pengejaran terhadap Mukmin dan Gimin dan berhasil menangkap Gimin sementara Mukmin berhasil kabur," pungkas JPU Novrika. (MC/DAF)

Komentar

Berita Terkini