-->
    |
Follow Us :

Begini Cara Kerja dan Efek Kebiri Kimiawi Terhadap Pria

Kali Dibaca




Cara Kerja dan Efek Kebiri Kimiawi Terhadap Pria (Foto: Darko Djurin/Pixabay)

Mediaapakabar.com
-Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) NO. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimiawi, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak Beleid pada tanggal 7 Desember 2020 lalu.

Merangkum berbagai sumber, dalam Pasal 2 ayat 1 dalam PP tersebut, pelaku kekerasan seksual terhadap anak dapat dikenakan hukuman berupa kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, dan rehabilitasi.

Lantas, apa itu kebiri kimia, dan bagaimana efek kesehatan bagi orang yang menerimanya? Simak ulasannya menurut medis di bawah ini.


Ini Cara Kerja Kebiri Kimia
Kebiri kimia merupakan tindakan yang dilakukan untuk menurunkan kadar testosteron pria menggunakan obat. Testosteron adalah hormon yang memengaruhi libido atau nafsu seks pria.

Nantinya, obat untuk menurunkan kadar testosteron bisa diberikan melalui penyuntikan atau tindakan lain. Prosedur ini umumnya digunakan untuk mengobati penyakit kanker prostat stadium lanjut.

Bagaimana cara kerja atau proses kebiri kimia? Berikut penjelasan dari dr. Arina Heidyana.

“Kebiri kimia dilakukan dengan memasukkan obat antiandrogen ke dalam tubuh pria. Cara kerjanya dengan menurunkan kadar level androgen (hormon testosteron) di dalam darah. Macam-macam antiandrogennya ini, ada yang berupa medroxyprogesterone acetate, cyproterone acetate, dan LHRH agonist,” ujarnya.

Selain menurunkan kadar testosteron, obat-obatan tersebut secara efektif dapat menurunkan gairah seks dan mengurangi kemampuan pria untuk dirangsang secara seksual.

Beberapa kondisi ini bisa terjadi ketika pria mendapat hukuman kebiri kimia:

Keinginan untuk berhubungan seks jadi rendah
Ukuran testis jadi mengecil
Sulit mengalami ereksi
Air mani jadi berkurang

“Ada beberapa efek lainnya yang mungkin bisa terjadi, seperti rambut rontok, massa otot jadi berkurang, mudah mengalami kenaikan berat badan, perubahan mood, mudah lupa, dan lebih berisiko terkena osteoporosis. Dampaknya juga bisa jadi infertil (tidak subur), bahkan sampai berisiko terkena penyakit jantung,” jelas dr. Arina.

Tidak seperti orchiectomy atau operasi kebiri yang dilakukan dengan mengangkat bagian testis, efek dari kebiri kimia dapat mereda apabila suntikan obat dihentikan.

Maka dari itu, pemberian obat antiandrogen tidak bisa diberikan hanya sekali, melainkan harus beberapa kali dan rutin. 

Apabila obat antiandrogen stop atau berhenti diberikan, tak dimungkiri gairah seksual pria, dalam hal ini pelaku kekerasan seksual terhadap anak, dapat muncul kembali.


Menanggapi Kebiri Kimia Dari Kacamata Psikologis
Bagi para korban atau masyarakat yang geram dengan pelaku kekerasan seksual terhadap anak, kebiri kimia dianggap sebagai hukuman yang setimpal dan harus segera dilaksanakan.

Masyarakat juga berharap pelaku menjadi jera dan tidak melakukan tindak kejahatan itu lagi.

Akan tetapi, bagaimana tanggapan psikolog mengenai hukuman ini? Adakah  hukuman yang dapat dilakukan untuk membuat pelaku jera selain dikebiri?

Menanggapi hal ini, Ikhsan Bella Persada, MPsi., Psikolog, mengatakan:

“Sebenarnya kalau dari sisi psikologi dipertimbangkan masih ada alternatif hukuman lain yang diberikan ke pelaku jika memang tujuannya untuk memberikan efek jera. Karena dengan kebiri itu hanya menghilangkan hasrat seksualnya aja, jadi nggak bisa ereksi salah satunya.”

“Tapi secara psikologis, pelaku bisa aja masih tertarik dengan anak-anak atau perempuan. Bahkan, bisa saja dia merasa jadi semakin benci dengan korbannya. Karena gara-gara korbannya dia jadi dikebiri, sedangkan memenuhi kebutuhan seksual itu penting banget bagi dia,” tambah Ikhsan.

Psikolog Ikhsan juga mengatakan, untuk mengebiri seseorang tentu perlu dilakukan dengan pertimbangan.

Jika tidak dilakukan kebiri, pelaku bisa dihukum seumur hidup atau diberikan hukuman sanksi sosial.

Misalnya, sanksi sosial bisa dilakukan dengan memberikan label predator seks agar lingkungannya tahu bahwa ia adalah pelaku kekerasan seksual.


Sumber :klikdokter.com
Komentar

Berita Terkini