Akibat Tanah Longsor, 1 Rumah di Puncak Bogor, 2 Rumah di Bantul Rusak

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto Ilustrasi tanah longsor. (iStockphoto/Mac99)

Mediaapakabar.com
- Tanah longsor di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Rabu (20/1/2021), membuat satu rumah warga rusak. Selain itu, longsor di Bantul, DI Yogyakarta, membuat dua rumah warga rusak.

"Pada hari Rabu 20 Januari 2021, pukul 13.20 WIB, telah terjadi kejadian tanah longsor di Kampung Baru RT 03 RW 05, Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor," tutur Manajer Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Budi Budiman Wahyu dalam keterangannya, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (20/1/2021).


Penyebab longsor, katanya, adalah akibat hujan dengan durasi yang lama yang menyebabkan robohnya rumpun bambu. Salah satu rumah warga pun tertimpa.


"Dampak 1 unit rumah rusak ringan dan 2 kepala keluarga (7) jiwa terdampak," ujarnya.


Meski demikian, dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian longsor tersebut.


BPBD Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor untuk berkoordinasi dengan aparat setempat. Selanjutnya, Pusdalops PB BPBD Kabupaten Bogor melakukan pendataan dan melakukan analisa di tempat kejadian dan memberikan logistik tanggap darurat.


"Untuk saat ini rumah sudah selesai penanganan rumpun bambu yang roboh dan atap sementara ditutup terpal," kata Budi.


Terpisah, BPBD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat dua rumah warga di pedukuhan Glingseng, Desa Munthuk, rusak karena tertimpa tanah longsor usai hujan deras mengguyur wilayah setempat Selasa (19/1) sore.


"Terkait dengan kejadian tanah longsor akibat curah hujan yang ekstrem di Bantul kemarin, untuk wilayah Glingseng itu ada dua rumah yang sebetulnya baru saja selesai dibangun terkena longsor," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto ditemui usai meninjau lokasi tanah longsor di Bantul, Rabu (20/1) dikutip dari Antara.


Menurut dia, dua rumah tersebut mengalami kerusakan bagian belakang karena tertimpa longsoran tanah dari tebing yang ada di belakang rumah. Hujan deras membuat aliran air di sekitar tebing mengakibatkan tanah jenuh sehingga longsor.


Dua rumah yang terdampak tanah longsor tersebut milik Muridan (40) dan Amirudin (45). Namun, katanya, ada satu rumah lagi di wilayah tersebut yang terancam terdampak longsor apabila hujan deras mengguyur dalam waktu lama. Pasalnya, rumah itu berjarak sekitar tiga meter dari titik longsor.


"Jadi di Dlingo sementara ini ada tiga rumah yang harus kita kosongkan, karena sudah tidak layak ditempati, sebab kalau dipaksakan ditinggali, apabila suatu saat ada kejadian lagi, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan korban jiwa," katanya.


Oleh karena itu, kata dia, penghuni dan anggota keluarga harus mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman, mengingat hujan dengan curah tinggi masih berpotensi terjadi, karena berdasarkan prediksi BMKG puncak hujan terjadi pada Januari-Februari.


"Kalau melihat potensi, di wilayah Glingseng juga ada ada tiga rumah yang terancam, sehingga total ada enam rumah yang harus dikosongkan, masing-masing KK (keluarga) ada empat jiwa, lokasinya secara langsung sudah tidak layak untuk hunian," katanya.


Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas BPBD, estimasi kerugian dari kerusakan rumah akibat kejadian tanah longsor tersebut sebesar Rp33 juta, yang meliputi sekitar Rp25 juta dari kerusakan rumah Muridan dan Rp8 juta dari rumah Amirudin.


Kejadian itu sendiri awalnya diketahui saat Amirudin yang tengah tidur mendengar suara gemuruh dari belakang rumah. Ternyata, itu adalah material longsor yang mengenai dinding rumahnya.


"Rencana tindak lanjut adalah kerja bakti. Kami masih koordinasi dengan pemerintah desa dan warga. Sumber daya yang ada, adalah BPBD, tagana (taruna siaga bencana), dan FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Desa Munthuk," tulis laporan petugas BPBD. (CNNI/Antara)


Share:
Komentar

Berita Terkini