-->
    |
Follow Us :

Lembaga di Amerika Kaji Wacana Isolasi Mandiri COVID-19 Dipersingkat Jadi 7 Hari

Kali Dibaca




Petugas Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) Pilkada Surabaya 2020 mengikuti tes usap di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (1/12/2020). (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Mediaapakabar.com-Isolasi mandiri memang diperuntukkan untuk mereka yang positif virus corona maupun pernah berkontak langsung dengan pasien COVID-19. Bahkan, jika sudah dinyatakan sembuh, Anda tetap wajib isolasi mandiri selama 14 hari ke depan.

Namun, hal berbeda disampaikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) baru-baru ini. Lembaga yang berbasis di Amerika Serikat tersebut berencana mengurangi masa isolasi mandiri menjadi 7 hari saja. Apa alasannya? Apakah cara ini sungguhan efektif?

Isolasi Mandiri 7 sampai 10 Hari saja, Apa Alasannya?Dilansir dari NPR, CDC mengumumkan bahwa ada kemungkinan untuk mempersingkat waktu isolasi mandiri dari 14 hari menjadi 7 hari saja.

Akan tetapi, Laksamana Brett Giroir, anggota Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih, mengatakan pejabat kesehatan sedang meninjau kembali rekomendasi itu.

Hingga saat ini, aturan isolasi mandiri yang dipersingkat memang masih menjadi wacana, tapi bukan berarti tidak akan dilakukan. Jennifer Nuzzo dari Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, Amerika Serikat, menyambut baik rencana perubahan standar waktu isolasi waktu mandiri menjadi 7 hari.


Bahkan Nuzzo sangat senang ketika CDC mempertimbangkan untuk mengurangi masa isolasi mandiri. 

Menurut dia, dengan mempersingkat waktu isolasi, akan lebih banyak orang yang patuh dan berdiam di rumah. Pelacakan kontak erat juga mungkin akan lebih mudah karena banyak warga yang menaati isolasi mandiri. 

Menanggapi hal ini, dr. Sepriani Timurtini Limbong meyakini bahwa CDC akan meloloskan rekomendasi baru tersebut. Hanya saja, dia berharap ketentuan ini hanya diperuntukan bagi pasien yang hasil tes virus coronanya sudah negatif. 

“Dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri, sebenarnya periode isolasi itu ditentukan dari gejala COVID-19 yang diderita pasien. Selain itu, hal ini juga ditentukan dari hasil tesnya,” ujar dr. Sepriani.

“Menurutku pribadi, karantina singkat ini sangat mungkin nantinya akan direkomendasikan, tapi dengan catatan hasil tesnya memang negatif,” dia menambahkan lagi.


Plus Minus Karantina Dipersingkat
Meski banyak didukung, ada juga plus dan minus dengan dipersingkatnya periode isolasi mandiri menjadi 7 hari, yaitu:

Sisi positif dari ketentuan ini adalah semakin patuhnya masyarakat terhadap aturan yang dibuat. Jika waktu isolasi mandiri dibuat terlalu lama, masyarakat cenderung tidak patuh akibat tingkat kejenuhan yang tinggi.

Alhasil, jadi banyak penyintas COVID-19 yang justru sengaja pergi ke luar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain.

Sisi negatifnya, jika aturan ini dilakukan tanpa tes akhir yang baik (misalnya hanya rapid test bukan PCR), tentu akan berbahaya karena status COVID-19 seseorang belum jelas.

Menurut dr. Sepriani, jika memang aturan ini akan segera disahkan, sebaiknya pastikan dulu pasien COVID-19 sudah benar-benar mendapatkan hasil yang negatif.

Jika belum negatif, atau hasil tesnya masih “samar-samar” maka isolasi mandiri tetap wajib dilakukan selama 14 hari. Bila perlu, orang tersebut tetap berada di bawah pengawasan petugas medis.

Ingat ya, virus corona ini sangat menular dan terkadang tidak menampakkan gejala. Itulah sebabnya, isolasi hingga benar-benar sembuh sangat diperlukan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Sumber: Klikdokter.com
Komentar

Berita Terkini