-->
    |
Follow Us :

Kabar Baik, Terapi Antibodi untuk Pengobatan Virus Corona Diuji Cobakan ke Manusia

Kali Dibaca
Uji Coba Terapi Antibodi untuk Pengobatan Virus Corona Dilakukan ke Manusia

Mediaapakabar.com-Salah satu berita bahagia yang dinanti-nanti masyarakat dunia adalah peneliti sudah menemukan pengobatan virus corona. Pengobatan yang dimaksud tentunya bukan sekadar yang “dipercaya”, tapi pengobatan pasti, sehingga roda kehidupan bisa berjalan seperti awal lagi.

Nah, kemarin (2/6), dilansir dari CNN, Eli Lily and Company mengatakan, mereka telah memulai uji coba sebuah terapi, yaitu terapi antibodi pada manusia untuk pertama kalinya. Ini digadang-gadang bisa jadi pengobatan COVID-19. Lantas, apa sebenarnya terapi antibodi?

Bagaimana Proses Uji Coba Terapi Antibodi?
Menurut dr. Devia Irine Putri, terapi antibodi ini sebenarnya sama dengan terapi plasma. Plasma darah yang mengandung antibodi sudah disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA). Apabila berhasil, ini seharusnya jadi pengobatan yang aman.

Fase pertama dalam uji coba terapi antibodi ini akan menguji apakah terapi tersebut benar-benar aman dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh manusia. Hasilnya akan dipaparkan pada akhir Juni.

Beberapa pasien yang menjadi percobaan adalah pasien yang dirawat di New York University's Grossman School of Medicine, Cedars-Sinai di Los Angeles, dan Emory University di Atlanta.

Seandainya uji coba memberikan hasil yang baik, terapi antibodi untuk pengobatan virus corona bisa tersedia di musim gugur (sekitar bulan September).

Eli Lily and Company sepertinya yakin bahwa ini adalah pengobatan yang mujarab. Mereka telah memproduksi cukup banyak obat terapi. Bahkan, mereka telah memberikan julukan untuk obat terapi antibodi ini, yaitu LY-CoV555 alias lucky triple five.

Bagaimana Terapi Antibodi Bisa Obati Pasien COVID-19?
Seperti yang sudah disinggung di atas, terapi antibodi ini sama dengan terapi plasma. Antibodi yang dijadikan obat virus corona ini didapatkan dari plasma darah pasien yang sudah sembuh.

Pasalnya, di dalam darah pasien sembuh, ada antibodi spesifik yang bisa membantu proses penyembuhan pasien COVID-19 lainnya.

“Namun, efektivitasnya juga bergantung kepada seberapa parah infeksi virus corona yang dialami. Setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda plus respons yang berbeda,” kata dr. Devia.

Itulah mengapa, perusahan tersebut juga menganjurkan bahwa terapi antibodi sebaiknya diberikan di perawatan awal pasien (saat virus sedang berusaha bereplikasi atau belum menciptakan komplikasi).

Perlu diingat, terapi antibodi atau terapi plasma ini berbeda dengan vaksin. Dokter Devia mengatakan, vaksin itu adalah bahan dan cara untuk mencegah infeksi COVID-19, sedangkan terapi antibodi ini merupakan obat (hanya diberikan saat orang terlanjur terinfeksi).

“Lagipula, terapi antibodi itu memasukkan antibodi yang spesifik untuk COVID-19 buat membantu mengurangi gejala yang muncul. Nah, kalau vaksinasi, kita memasukkan virus atau bakteri yang dilemahkan, sehingga secara aktif tubuh jadi bisa membuat antibodi sendiri,” tambahnya.

Bila Berhasil, Apakah Terapi Antibodi akan Terjangkau?
Pertanyaan di atas tentu akan terlintas di pikiran. Sebab, agak sulit situasinya bila pengobatan tersebut mahal atau jarang. Tapi, dr. Devia mengatakan hal sebaliknya dan cukup melegakan.

“Ini seharusnya bisa terjangkau, sih. Karena, kan, alatnya lebih familiar. Belum lagi kalau banyak pasien sembuh yang nyumbang plasma darah mereka, pasti nggak akan langka dan lebih terjangkau oleh masyarakat,” tuturnya. 

Kita tunggu saja bagaimana keberhasilan uji coba terapi antibodi atau terapi plasma ini sebagai pengobatan virus corona. Bila memang berhasil, semoga pengobatan tersebut benar-benar bisa dijangkau oleh semua kalangan.

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap menjaga imunitas tubuh dan melakukan berbagai pencegahan COVID-19, seperti physical distancing, pakai masker, rutin cuci tangan, dan menerapkan pola hidup sehat plus bersih.


Sumber :Klikdokter.com
Komentar

Berita Terkini