-->
    |
Follow Us :

Resmi, Wuhan Larang Memakan Hewan Liar setelah Covid-19 Jadi Petaka Dunia

Kali Dibaca



Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, China, yang disebut-sebut sebagai sumber virus corona baru penyebab penyakit Covid-19. Foto/Mirror.co.uk
Mediaapakabar.com-Pemerintah kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, resmi melarang memakan hewan liar. Larangan dikeluarkan setelah virus corona baru penyebab Covid-19 menjadi petaka bagi masyarakat di seluruh dunia.

Larangan diberlakukan di tengah tekanan yang meningkat terhadap pemerintah untuk menindak perdagangan ilegal satwa liar.

Kota Wuhan yang menjadi pusat pandemi Covid-19 pertama kali dikenal karena pasar basahnya. Pasar yang menjajakan aneka satwa liar untuk dikonsumsi manusia itu telah disalahkan oleh banyak orang sebagai sumber virus yang telah menewaskan lebih dari 329.000 orang dan menginfeksi lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia.

Mengutip laporan CBS, Kamis (21/5/2020), memakan hewan liar serta memburunya di dalam batas kota Wuhan telah resmi dilarang. Kota itu mulai Rabu kemarin menyatakan dirinya sebagai "suaka margasatwa".

Ada pengecualian yang disetujui pemerintah terkait larangan berburu satwa liar, yakni hanya untuk penelitian ilmiah, pengaturan populasi, pemantauan epidemi penyakit dan keadaan khusus lainnya. 

Menurut pengumuman pemerintah kota Wuhan pada Rabu, kebijakan baru yang dimulai 13 Mei 2020 akan tetap berlaku selama lima tahun ke depan.

Pejabat kota setempat mengatakan pemerintah lokal akan mengambil bagian dalam skema nasional yang lebih luas untuk membeli hewan liar dari para peternak, dengan kontrol baru yang menyebutkan bahwa tidak ada hewan eksotis yang dapat dipelihara sebagai makanan manusia.

Para ahli di China mengatakan pada bulan Januari bahwa virus corona baru, SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 kemungkinan menular ke manusia dari hewan liar yang dijual sebagai makanan di pasar basah di kota berpenduduk 11 juta tersebut.

Pasar Grosir Makanan Laut Huanan ditutup pada 1 Januari setelah penyebaran virus corona baru secara lokal, dan sebagian besar dianggap sebagai sumber wabah global.

Pasar itu menawarkan penjualan hewan hidup seperti rubah, buaya, anak anjing serigala, ular, tikus, burung merak, landak, koala, dan aneka daging buruan.

Berbagai organisasi, pemimpin dan pakar di seluruh dunia, termasuk Perdana Menteri Australia Scott Morrison, mengecam langkah untuk menjaga pasar hewan hidup tetap terbuka.

"Hewan yang diperlakukan dengan buruk stres, dan hewan yang stres lebih cenderung menjadi tempat penyakit baru karena sistem kekebalannya terganggu," kata Profesor Clive Phillips dari University of Queensland Centre for Animal Welfare and Ethics dalam sebuah tulisan untuk The Conversation yang dilansir news.com.au.

"Ini berarti pasar basah ini, di mana ada hewan yang stres dalam kontak erat dengan manusia, adalah tempat berkembang biak yang sempurna untuk penyakit baru."

Juru bicara PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) Emily Rice mengatakan; "Pandemi lain tidak dapat dihindari jika kita gagal belajar dari yang ini, itulah sebabnya PETA menyerukan kepada WHO untuk mengambil tindakan terhadap operasi yang kejam dan berbahaya ini."

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal bulan ini mengatakan bahwa meskipun pasar di Wuhan kemungkinan memainkan peran penting dalam kemunculan virus corona baru, pihaknya tidak merekomendasikan bahwa pasar-pasar seperti itu ditutup secara global.

Dalam sebuah jumpa pers, pakar keamanan makanan dan penyakit hewan WHO Peter Ben Embarek mengatakan pasar hewan hidup sangat penting untuk menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi jutaan orang di seluruh dunia dan bahwa pihak berwenang harus fokus pada peningkatan mereka daripada melarang mereka—meskipun mereka kadang-kadang dapat memicu epidemi pada manusia.(Sindonews.com)


Komentar

Berita Terkini