|
Follow Us :

Waspada, Jumlah Penderita DBD Meningkat, Ini Bedanya dengan Demam Dengue

Kali Dibaca


Jumlah Pasien DBD Meningkat, Ini Bedanya dengan Demam Dengue
Mediaapakabar.com-Pada saat orang sedang fokus dengan virus corona, nyatanya jumlah korban demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia sudah melambung, bahkan pasien yang meninggal sudah mencapai 104 orang. Namun tahukah Anda, bahwa demam berdarah itu tidak sama dengan demam dengue?

Jumlah Pasien DBD di Indonesia Meningkat
Untuk kasus virus corona di Indonesia sendiri, kini sudah mencapai angka 34 orang dengan jumlah kasus kematian 1 orang. Namun, angka ini berbeda jauh dengan korban karena DBD yang sampai Maret ini sudah merenggut 104 nyawa.

Melansir dari Liputan6.com, jumlah kasus DBD di Indonesia sudah mencapai 16.099 di periode yang sama. Setiap laporan kasus masuk dari 28 provinsi, dengan 370 kabupaten/kota yang terjangkit.

Empat provinsi yang melaporkan kasus DBD tertinggi, yakni Nusa Tenggara Timur (2.711), Lampung (1.837), Jawa Timur (1.761), dan Jawa Barat (1.420). Tiga provinsi teratas dengan jumlah kematian DBD tinggi, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) 32, Jawa Barat 15, dan Jawa Timur 13 kematian.

DBD memang bukan masalah baru di Indonesia, apalagi pada musim hujan seperti sekarang ini. Tapi nyatanya, penyakit ini tidak sama dengan Demam Dengue (DD).

Perbedaan Demam Berdarah Dengue dan Demam Dengue

Orang mungkin suka salah kaprah ketika membicarakan demam dengue (DD) dan  demam berdarah dengue (DBD). Mentang-mentang ada kata dengue, penyakit ini dianggap sama satu sama lain.

Penyakit ini memang sama-sama punya gejala khas, yakni demam. Selain itu, menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter, memang juga sama-sama disebabkan oleh virus dengue.

"Baik demam dengue dan DBD itu sama-sama disebabkan virus dengue. Perbedaannya pada spektrumnya. Spektrum itu maksudnya apa? Itu tingkat keparahan dari penyakit," ujar dr. Alvin. Secara umum, penyakit demam dengue dan DBD memiliki gejala:

Demam Dengue (DD)
Demam selama 2-7 hari.
Timbul gejala lain seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi.
Kadar trombosit dalam darahnya menurun.
Panas akan turun pada hari ketiga atau keempat.
Tingkat penyembuhannya lebih baik.

Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam tinggi mendadak.
Timbul gejala lain seperti nyeri kepala, nyeri di bagian belakang bola mata, terkadang juga nyeri perut.
Ada tanda ruam atau bintik merah di kulit.
Tidak disertai dengan batuk atau sakit di tenggorokan.
Trombosit dan leukosit turun.
Terjadi peningkatan hematokrit (naik 20% dari jumlah normal).
Perdarahan pada jaringan lunak (hidung, mulut, atau gusi) .
Terjadi perembesan plasma. Makin bocor bisa menyebabkan syok.

Dokter Alvin menjelaskan, demam dengue merupakan versi ringan dari DBD. Perbedaan paling mencolok adalah masalah kebocoran plasma dan trombosit.

"Jadi, demam dengue (DD) itu adalah demam berdarah versi 'ringan'. Nah, kalau orang disebut Demam Berdarah Dengue (DBD), gejala khasnya  itu kalau sudah terjadi kebocoran plasma atau trombositopenia yang lebih berat," ungkap dr. Alvin.

"Di mana salah satu kriteria DBD adalah harus ada kebocoran plasma (cairan keluar dari pembuluh darah) dan trombositnya kurang dari 100.000. Kalau demam dengue tidak harus ada itu," tegas dr. Alvin.


Periode Setelah Kebocoran Plasma

Anda juga perlu tahu tentang periode setelah kebocoran plasma ini. Menurut dr. Atika dari KlikDokter, penderita akan mengalami perdarahan dalam durasi yang cukup lama.

Perdarahan bisa terjadi saat Anda terjatuh atau cedera, lalu darah yang keluar sulit dihentikan. Selain itu, perdarahan juga dapat terjadi dalam saluran cerna maupun muncul lewat urine (hematuria).

"Pasien biasanya juga merasakan nyeri perut yang sangat hebat, hingga muntah terus-menerus yang bisa mengandung darah. Tipe demam pada kondisi ini juga cukup khas, yaitu kurvanya berbentuk seperti pelana kuda," kata dr. Atika.

Demam dengan kurva pelana kuda terjadi karena setelah mengalami demam bersuhu tinggi, tubuh dapat mengalami periode bebas demam yakni suhu tubuh menurun. Kemudian setelah itu, suhu tubuh meningkat kembali alias demam tinggi.

Selama 24 jam setelah muncul tanda kebocoran plasma, hal ini  merupakan tahap atau kondisi yang kritis. Biasanya kondisi ini terjadi saat suhu tubuh perlahan menurun (dasar pelana kuda. Di mana suhu tubuh yang menurun ini sering dikira demamnya sudah membaik dan mulai sehat kembali, padahal belum tentu.

"Bila dibiarkan tanpa penanganan yang memadai, penderita dapat mengalami syok dengan tanda-tanda seperti wajah yang pucat, jantung berdebar, sesak napas, pusing, dan penurunan kesadaran," lanjut dr. Atika.

Tidak lupa, demi mencegah lebih banyak lagi pasien DBD, Kementerian Kesehatan Indonesia mengimbau masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau biasa disingkat PSN.

Pada aksi PSN ini, dapat dilakukan dengan kegiatan menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk dengan cara mengimplementasikan gerakan 1 rumah 1 juru pemantau jentik (Jumantik).

Hal ini wajib dilakukan dan apabila sudah muncul gejala demam berdarah, segera periksa ke dokter untuk mencegah kondisi semakin parah.


Sumber : Klikdokter.com
Komentar

Berita Terkini