|

Ternyata, Indonesia Sangat Bergantung dengan China

Kali Dibaca



Foto: Suasana pabrik yang memproduksi Gas Insulated Switchgear (GIS) tegangan tinggi di Tangerang. (dok. ABB Indonesia)
Mediaapakabar.com-Saat wabah corona melanda China, dunia semakin tersadar banyak negara bergantung dengan China, tak terkecuali Indonesia. Indonesia masih banyak bergantung bahan baku industri dari China. Saat corona mewabah, industri di Indonesia kena persoalan hambatan bahan baku industri manufaktur.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan, ancaman kelangkaan pasokan impor bahan baku atau penolong dari Tiongkok harus dicari solusinya dalam jangka pendek.

"30% impor untuk bahan baku industri suka atau tidak suka, saya harus akui memang dari China," jelas Agus saat menjadi pembicara di Rakernas Kementerian Perdagangan 2020, Rabu (4/3/2020).
Sehingga pemerintah dan dunia usaha perlu melakukan pemetaan (mapping) terhadap negara lain yang mampu menyediakan produk impor bahan baku. Agar proses produksi di masing-masing industri tidak mengalami gangguan.

Dalam jangka menengah atau panjang, penguatan struktur industri nasional dilakukan dengan mengembangkan industri bahan baku hingga industri hilirnya. Caranya, dengan menyiapkan produk substitusi impor untuk golongan barang konsumsi agar tidak terjadi kelangkaan yang berkelanjutan di dalam negeri.

"Upaya ini untuk mencari kompensasi penurunan ekspor ke China, sehingga tetap dapat meningkatkan devisa. Dalam jangka menengah/panjang, berkurangnya kemampuan ekspor China ke berbagai negara dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengambil pangsa pasar ekspor China di negara-negara mitra dagang China," jelas Agus.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, dalam rangka menjaga pertumbuhan neraca perdagangan, Kemendag akan melakukan terobosan-terobosan.
Kemendag akan melakukan ekspor kepada negara-negara yang selama ini belum di jajaki, atau negara-negara yang non tradisional.

"Afrika, Amerika Latin. Itu salah satu negara yang kebetulan saya akan ke salah satu negara. Satu bulan ke depan, untuk memfinalisasi perjanjian CEPA dengan negara di Afrika," jelas Jerry.

"Lalu degan Turki, Turki kita September. Kebetulan beberapa waktu lalu saya dari sana bertemu dengan ministernya langsung dan dengan wamendagnya. Dan kami bersepakat merealisasikan perjanjian dagang ini melalui kalau tidak bulan September, Oktober, dalam waktu dekat ini," tuturnya.  


Sumber : CNBCIndonesia.com
Komentar

Berita Terkini