|

S-200 Suriah Gagal Jatuhkan F-16 Turki

Kali Dibaca



S-200
Mediaapakabar.com-Sistem pertahanan udara jarak jauh S-200 milik Suriah menembakkan rudal untuk membidik jet tempur F-16 Turki. Upaya itu gagal.

Menurut Yusha Yuseef dari Muraselon News, angkatan bersenjata Suriah berusaha untuk menembak jatuh sebuah pesawat tempur Turki yang berpartisipasi dalam serangan udara di Idlib Suriah barat laut.
Peluncuran rudal terdeteksi dalam penerbangan oleh sensor di F-16 hingga jet tempur Turki bisa menghindari rudal dan kembali dengan selamat ke wilayah udara mereka.
Seperti diketahui pada Minggu, pesawat jet tempur Angkatan Udara Turki F-16 menembak jatuh dua pembom Su-24MK2 Angkatan Udara Suriah di atas provinsi Idlib. Pertempuran udara adalah bentrokan terbaru dalam konflik yang meningkat antara militer Turki dan pasukan yang mendukung rezim Bashar-al-Assad untuk mengendalikan kubu pemberontak besar terakhir di Suriah.
Juga pada 3 Maret, jet F-16 Turki menumbangkan pesawat L-39 Suriah di provinsi barat laut Idlib di Suriah dekat Maarat al-Numan.
Turki meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi setelah setidaknya 34 tentara Turki tewas dan puluhan lainnya cedera dalam serangan udara rezim Assad di Idlib, tepat di seberang perbatasan selatan Turki.
Satu-satunya target Turki selama operasi adalah pasukan dan peralatan rezim Assad di Idlib di bawah hak negara untuk bela diri, tegas Akar.
Tentara Turki terbunuh ketika bekerja untuk melindungi warga sipil setempat di bawah kesepakatan September 2018 dengan Rusia, yang melarang tindakan agresi di Idlib.
S-200 adalah senjata yang sudah cukup tua. Sistem pertahanan udara jarak jauh dan ketinggian tinggi ini dibangun Uni Soviet pada era 1960an  oleh NPO Almaz dan  dirancang untuk mempertahankan area yang luas dari serangan bomber atau pesawat strategis lainnya.
Penyebaran awal unit ujicoba S-200 menggunakan rudal 5V21 terjadi pada tahun 1963 sampai 1964 di pinggiran Tallinn di Estonia. Resimen operasional pertama dikerahkan pada tahun 1966 dengan 18 lokasi dan 342 peluncur yang beroperasi pada akhir tahun.Pada tahun 1967, ketika S-200 secara resmi diterima dalam pelayanan, total situs telah meningkat menjadi 22, pada tahun 1968 sampai 40, dan pada tahun 1969 menjadi 60.
Aljazair, Azerbaijan, Bulgaria india, Iran, Kazakhstan, Korea Utara, Myanmar (membeli dari Korea Utara), Polandia, Tukmenistan, Uzbkeistan, Libya hingga Jerman (saat masih ada Jerman Timur). Rusia sendiri sudah mempensiun senjata ini dan menggantikannya dengan sistem yang lebih canggih yakni S-300 dan S-400. Namun sejumlah negara masih tetap mengoperasikan.
Sistem pertahanan udara ini juga memiliki sejarah hitam karena menembak pesawat sipil tanpa sengaja. S-200  secara tidak sengaja mengunci sebuah pesawat Tu-154 milik Siberia  Airlines saat pesawat tak berawak yang seharusnya menjadi target dihancurkan oleh rudal lain. Pesawat tersebut hancur di atas Laut Hitam pada tanggal 4 Oktober 2001, menewaskan 78 orang di dalamnya.(Jejaktapak)
Komentar

Berita Terkini