|
Follow Us :

Pengamat Ekonomi Sumut : Anjuran Tetap di Rumah Jadi Bencana Bagi Petani dan Pedagang

Kali Dibaca





Mediaapakabar.com-Harga sejumlah kebutuhan pokok trennya belakangan ini  mengalami penurunan. Setelah sayur-sayuran anjlok harganya, dikarenakan sekolah maupun perguruan tinggi yang menangguhkan pelajaran sebelumnya. Belakangan kondisi UMKM semakin kritis setelah sejumlah perkantoran, pabrik, hingga himbauan untuk tetap di rumah diberlakukan.

Pengamat Ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, di Medan anjuran walikota agar masyarakat lebih banyak di rumah, serta jam operasional café, restauran maupun rumah makan yang di batasi. Membuat pelaku usaha yang menopang bisnis tersebut juga mengalami penurunan omset penjualan.

"Banyak pedagang saat ini yang dirugikan karena penjualan mereka anjlok. Padahal pedagang ini kelasnya mikro dan kecil. Aktifitas ekonomi masyarakat yang geraknya dibatasi menjadi salah satu pemicu memburuknya harga kebutuhan pokok belakangan ini," katanya di Medan, Sabtu (28/3/2020) sore.

Gunawan menambahkan, banyak petani yang dirugikan karena permintaan barang dari petani mengalami penurunan. Harga cabai merah yang biasanya dijual di kisaran 25 ribu hingga 35 ribu per Kg. Saat ini, harga cabai merah itu dijual dikisaran 15 ribu hingga 20 ribuan saja. Harga cabai rawit mengalami penurunan yang tak kalah besar, cabai rawit sekarang dijual di harga 10 hingga 15 ribu per Kg.

"Harga itu adalah harga di tingkat pedagang pengecer. Kalau harga di tingkat petani di bawah 13 ribu, maka petani yang akan menanggung kerugian. Kalau konsumen tetap diuntungkan meskipun konsumen juga banyak yang mengurangi belanja karena takut corona," jelas Gunawan.

Selain itu, lanjut Gunawan, pedagang sendiri mengalami kerugian karena mereka rentan dirugikan dari fluktuasi harga yang tidak bisa diperkirakan. Bahkan banyak distributor yang dirugikan karena harga cepat berubah dengan kecenderungan turun tajam, ujarnya.

Katanya, selain cabai, daging ayam juga turun di kisaran 24 ribuan per Kg. Sayur-sayuran seperti kangkung, bayam dijual dengan harga 1200 hingga 2000 per ikatnya. Kacang panjang hanya dijual sekitar 1800 hingga 2500 per ikatnya. Harga yang bertahan mahal sejauh ini masih dari harga gula pasri yang 17 ribuan per Kg.

"Bawang merah naik menjadi 31 ribuan. Untuk bawang merah ini diduga naik karena banyak distributor yang tidak melakukan aktifitasnya. Dan SUMUT masih bergantung bawang merah dari luar termasuk brebes dan solok," ungkap Gunawan.

Sejauh ini pelemahan rupiah yang bertahan dikisaran 16.200 per US Dolar belum menjadi malapetaka buat harga pangan. Namun pelaku UMKM mulai dari petani hingga pelaku bisnis besar mulai merasakan dampak dari penyebaran corona. Dan ini merupakan bencana besar bagi pelaku ekonomi di manapun.

Gunawan berharap agar masyarakat ikut aktif membantu pemerintah dalam memerangi corona. Jika penyebarannya mampu dibatasi, maka pemulihan ekonomi akan berlangsung dengan cepat. Ikuti semua anjuran pemerintah baik pusat, daerah maupun kota, tutup Gunawan.(abi)

Komentar

Berita Terkini