|

Dampak Penyebaran Virus Corona Membuat Ekonomi Masyarakat Terpukul

Kali Dibaca

Mediaapakabar.com-Penyebaran virus corona belakangan ini terus mengkuatirkan seiring dengan kemungkinan tindakan lanjutan yang bisa saja membuat ekonomi masyarakat terpukul.

Aktifitas ekonomi masyarakat terganggu dengan resiko terciptanya penurunan daya beli masyarakat. Banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, tempat wisata, sekolah,perguruan tinggi, pabrik, perkantoran yang terpaksa dihentikan sebagian atau dihentikan sepenuhnya sehingga perputaran uang menjadi terhambat dan memicu angka kemiskinan.

"Masyarakat miskin di perkotaan akan mengalami masalah yang lebih serius dibandingkan dengan masyarakat di pedesaan.Salah satunya kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok.Disisi lain, masyarakat yang menyandang kelas menengah sangat berpeluang masuk dalam garis kemiskinan, jika aktifitas ekonomi tidak mampu pulih dengan segera. Kondisi masyarakat miskin di perkotaan sangat rentan mengalami penuruan daya beli, dengan potensi peningkatan jumlah angka kemiskinan setiap harinya," jelas Pengamat Ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin kepada Mediaapakabar di Medan, Selasa (24/3/2020)siang.

Ditambahkan, banyak masyarakat menengah hingga menengah ke bawah di perkotaan yang bekerja di sektor informal. Saat ini saja, sekitar 20% pedagang memilih tidak berjualan. Bayangkan satu pedagang kelas distributor atau grosir memiliki setidaknya 2 hingga 4 orang tenaga kerja informal. Mulai dari tenaga penjual, buruh bongkar muat, hingga buruh diluar toko seperti tukang becak, tenaga kebersihan dan masih banyak lagi.

" Untuk di sektor pendidikan, meskipun guru berstatus PNS tetap mendapatkan penghasilan. Namun, berapa banyak pedagang asongan, tukang antar jemput anak sekolah yang harus kehilangan pekerjaan karena pembatasan aktifitas masyarakat. Dan masih banyak lagi masyarakat lain yang dirugikan karena covid 19," ujar Gunawan.

Selain itu, lanjut Gunawan, tanpa bantuan ke mereka (masyarakat miskin), saya yakin kesulitan-kesulitan baru akan muncul nantinya. Ini yang harus dipikirkan pemerintah daerah maupun pusat. Masyarakat miskin tersebut sangat rentan dengan penurunan daya beli. Selain itu, seiring dengan penurunan daya beli tersebut, masyarakat miskin diperkotaan juga lemah dalam memberikan perlindungan terhadap dirinya masing-masing menghadapi penyebaran covid-19.

"Meskipun secara presentase masyarakat miskin di pedesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan. Menurut BPS September 2019 angkanya sebesar 12.6%, sementara masyarakat miskin perkotaan sebesar 6.59%. Namun, ketahanan pangan masyarakat pedesaan jelas lebih  baik dibandingkan masyarakat di perkotaan," ungkap Gunawan.

Di medan, sebutnya, angka kemiskinan sebesar 18%, jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Ada sekitar 460 ribu masyarakat miskin di kota medan. Saya yakin angkanya meningkat sat ini, terlebih jika masa darurat covid 19 ini berlangsung sampai 3 minggu kedepan. Dan kondisi kesulitan ekonomi masyarakat akan bertambah besar jika skenario lockdown dijalankan, katanya.

Akan ada 75% hingga 80% tenaga kerja informal yang kehilangan pekerjaan, jika lockdown di berlakukan. Jika secara nasional terdapat 74 juta jiwa yang bekerja secara informal. Maka lockdown akan membuat tambahan penganguran sekitar 55,5 juta jiwa. Sementara di SUMUT, pekerja sektor informalnya itu sekitar 3.87 juta jiwa. Jika ada lockdown, maka akan ada tambahan pengangguran sedikitnya 2.9 juta jiwa.

"Anjuran Work From Home (WFH) karena darurat corona saja selama sepekan terakhir sudah menghempaskan sedikitnya 30% tenaga kerja informal. Aktifitas ekonomi saat ini saja sudah membuat ekonomi terseok-seok, konon kalau seandainya di lockdown, maka ekonomi akan kolaps," pungkas Gunawan.(abi)

Komentar

Berita Terkini