|

Rupiah Di Perdagangan Melemah di level 13.885 per US Dolar

Kali Dibaca
Pakar Ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin
Mediaapakabar.com-Bursa saham di AS yang sempat terpuruk memicu kekuatiran yang menakutkan bagi pasar keuangan. Sejauh ini sejumlah indeks bursa di negara lain bergerak berfluktuasi, dengan kemungkinan dibukanya pasar saham AS yang kemungkinan akan menguat. Hal ini tercermin dari indeks futures sejumlah bursa di AS yang menghijau saat bursa kita ditutup.

Pakar Ekonomi Sumatara Utara, mengatakan, pada penutupan perdagangan hari ini, kinerja indeks saham di BEI tercatat mengalami penurunan. IHSG ditutup jeblok di level 5.787,17. Sementara itu Rupiah diperdagangkan melemah di level 13.885 per US Dolar. Secara teknikal, pola kinerja yang ditunjukan oleh IHSG mengalami tekanan setelah tertekan dibawah level 5.800.

"IHSG masih berpeluang untuk rebound pada perdagangan hari rabu, jika pasar keuangan di sejumlah negara menunjukan tren kea rah yang positif. Sentimen yang terbentuk di pasar keuangan sejauh ini belum memberikan sokongan yang kuat terhadap fundamental pasar keuangan itu sendiri. Banyak indikator yang memburuk seiring dengan penyebaran virus corona," katanya kepada Mediaapakabar di Medan, Selasa (25/2/2020).

Gunawan menambahakan, kabar terbaru yang membuat pelaku pasar semakin pesimis adalah kemungkinan resesi yang akan melanda Jerman, Jepang dan Singapura. Pada hari ini saja indeks bursa di Jepang yang diperdagangan bersamaan dengan IHSG mengalami pelemahan lebih dari 3%.

"Singapura sendiri di tahun 2020 memperkirakan pertumbuhan ekonominya akan turun dalam rentang -0.5% hingga -1.5%. Jepang dikuartal ke 4 mengalami kontraksi 1.6%, dan Jerman juga tengah dalam level waspada terhadap kemungkinan memburuknya perekonomian di negara panzer tersebut," jelas Gunawan.

Disebutkannya Singapura dan Jerman sangat bergantung ekonominya dengan cina. Nah, perlambatan ekonomi Cina ditambah dengan penyebaran virus corona membuat kedua negara tersebut harus kehilangan banyak uang karena kinerja ekspor ke cina yang terus memburuk. 

"Jerman jepang singapura terancam resesi, IHSG Jeblok
Disebut negara maju, yang penting substansinya, seperti Amerika mencabut status negara Indonesia sebagai negara maju," paparnya.

Menurut Gunawan hal tersebut bukanlah hal yang substansial. Terlebih jika keinginan dari AS hanyalah untuk memperbaiki neraca dagang As dengan sejumlah mitra dagangnya yang dinilai  merugikan bagi AS. Sehingga keputusan AS tersebut hanyalah retorika guna melanggengkan tujuan akhirnya yakni “Make America Great Again”.

" Akan tetapi apakah benar kita telah masuk dalam negara maju. Pada dasarnya ekonomi Indonesia memamng masuk dalam 20 besar dunia. Dan Indonesia masuk dalam negara G20. Ini sebuah prestasi tentunya iya. Kita harus adil dalam melihat situasinya. Akan tetapi kita juga harus tahu yang penting itu bukan hanya kita masuk dalam G20, karena dengan penduduk yang besar, pantas saja kalau kita ekonominya juga masuk dalam negara dengan ekonomi besar di dunia," ungkap Gunawan.

Tetapi, lanjutnya yang lebih substansial adalah terkait dengan pendapatan perkapita masyarakat kita. Itu yang jauh lebih menggambarkan kesejahteraan bangsa ini. Termasuk kemudahan dalam akses layanan kesehatan, pendidikan, yang dibarengi dengan daya beli yang mapan. Saya lebih setuju dengan konsep negara maju yang didengungkan Presiden, yang menekankan pendapatan perkapita masyarakat, tutur Gunawan.

Dikatakannya, Singapura sebagai salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia tidak menginginkan negaranya masuk dalam daftar negara maju. Ini juga perlu jadi bahan pertimbangan kita. APapun yang dilakukan oleh As sebaiknya tidak membuat kita menyombongkan diri. Justru dengan sebutan negara maju tersebut, sebaiknya kita harus segera melakukan alternatif tujuan ekspor negara kita yang bisa saja terbebani dengan stigma maju tersebut.

"Lebih baik kita melihat kedalam diri kita sendiri. Sejauh ini memang kita tengah melakukan banyak kemajuan dalam pengembangan infrastruktur, ada undang undang sapu jagat yang memudahkan investasi. Namun kita harus juga membaca realita, bahwa ketergantungan impor kita tinggi, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dalam 2 tahun terakhir," pungkas Gunawan.(abi)
Komentar

Berita Terkini