|

Apa Kabar Skuad Lumba-Lumba Pembunuh Soviet yang Dibeli Iran?

Kali Dibaca


Mediaapakabar.com-Bertahun-tahun yang lalu, Teheran membeli beberapa lumba-lumba yang dilatih oleh Tentara Merah Soviet untuk tugas-tugas militer. Dengan ancaman perang dengan Amerika Serikat di depan mata, beberapa pakar militer bertanya-tanya: apa yang terjadi dengan lumba-lumba itu?

Pada tahun 2000, Federasi Rusia menjual ke Iran sejumlah lumba-lumba yang konon telah dilatih dalam seni pertempuran laut. Ikan ini mematikan karena bisa membunuh dengan moncongnya dan bahkan melakukan serangan bunuh diri pada kapal selam musuh dengan ranjau laut yang meledak di punggung mereka.
Menurut BBC, lumba-lumba dilatih pada masa akhir era Uni Soviet, tetapi setelah berakhirnya Perang Dingin, pelatih lama mereka, Boris Zhurid, membawa mereka ke dolphinarium di Sevastopol untuk ditampilkan pada wisatawan.
Namun, ketika lumba-lumba pergi ke Iran pada tahun 2000, Zhurid pergi bersama mereka, menurut sebuah artikel Pravda Komsomolskaya yang dikutip oleh BBC. Tidak banyak lagi yang diketahui tentang mereka setelah itu, tetapi Military.com mencatat bahwa tergantung pada spesies lumba-lumba apa yang digunakan Soviet, mereka masih bisa hidup. Mungkin juga Zhurid mengajar ahli strategi angkatan laut Iran tentang metodenya, atau melatih lebih banyak lumba-lumba sendiri.
Mungkin juga hewan-hewan itu dibebaskan. Pada bulan Maret, Hamid Zahrabi, Wakil Direktur Departemen Lingkungan Iran, berbicara menentang penggunaan mamalia laut untuk tujuan hiburan. Dia mengatakan kepada Iran Front Page News bahwa dia bermaksud untuk menutup dolphinarium di negara itu dan mencegah pembangunan yang baru.
Mungkin kedengarannya tidak masuk akal, tetapi menggunakan lumba-lumba dan binatang lainnya untuk operasi angkatan laut bukan hal yang baru. Amerika menjadi negara yang paling pertama melakukannya.
Menurut laporan mengejutkan oleh Slate tentang sejarah tentara lumba-lumba taun 2016, Amerika mulai penelitian tentang penggunaan lumba-lumba dan hewan laut lainnya untuk tugas bawah air.
Pada pertengahan 1960-an, Program Pelatihan Mamalia Laut US Navy di San Diego, California, memiliki lumba-lumba, orcas (yang juga sejenis lumba-lumba), paus beluga dan bahkan singa laut di kandangnya. Hewan-hewan itu diajari untuk memburu dan menandai ranjau laut, mengambil benda-benda bawah laut, melakukan peringatan dini dan membantu perenang Angkatan Laut.
Pada tahun 2012, ketika ketegangan kembali terjadi antara Iran dan Amerika, The Atlantik mencatat bahwa jika Iran menutup Selat Hormuz dengan ranjau laut, Angkatan Laut Amerika akan memanggil pasukan lumba-lumba untuk membantu mereka membuka jalur air.
Namun, satu hal yang tidak bisa dilakukan orang Amerika terhadap lumba-lumba adalah membunuh mereka.
Terrie Williams, seorang ahli fisiologi mamalia besar di Universitas California di Santa Cruz, mengatakan kepada Slate bahwa meski lumba-lumba secara fisik mampu merobohkan seseorang dengan moncongnya seperti yang kadang-kadang mereka lakukan terhadap hiu, itu “sangat dibuat-buat” bahwa mereka bisa dilatih untuk melakukan itu kepada manusia.
Itu adalah tindakan pembelaan diri yang putus asa, dan dengan indera sonar mereka yang halus dan sangat sensitif di depan kepala mereka, berulang kali membenturkan moncong mereka ke suatu benda adalah sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan dengan sukarela.
Richard Trout, mantan pelatih mamalia sipil untuk Angkatan Laut Amerika, mengatakan kepada New York Times pada tahun 1990 bahwa lumba-lumba terlalu jinak untuk membunuh penyelam.”’Mereka berenang atau meletakkan moncongnya di pundak kita, dengan penuh kasih sayang,” katanya.
Jadi jika Iran masih memiliki hewan itu, kemungkinan desas-desus tentang kemampuan membunh mereka terlalu dilebih-lebihkan.(jejaktapak).
Komentar

Berita Terkini