|

Keluarga Kampung Gerson Tidak Pernah Gugat HKBP, Pantun Simanungkalit : Dulu " Tano Pargadongan Rimba Simanari " Itu Diberikan Ke Zending Belanda 1934

Kali Dibaca



 Anak bungsu Kampung Gerson Pantun Simanungkalit saat menunjukkan surat Piso loit yang menandakan bahwa William Raja Ihutan  Ama Mallupuk Simanungkalit merupakan seorang raja dari Zending Belanda tahun 1887

Mediaapakabar.com-Sengketa tanah antara HKBP dan keluarga Kampung Gerson Simanungkalit berujung saling klaim.

Menurut keluarga Kampung Gerson Simanungkalit, dulu tanah " Tano Pargadongan Rimba Simanari " diberikan kepada Zending Belanda tahun 1934 oleh William Raja Ihutan  Amani Mallupuk Simanungkalit.

" Penguburan ibunda tercinta kami pun Oppung Lamris tanpa pembacaan sakramen.

Namun, tambahnya, mereka ngotot dan melakukan pelarangan. Imbasnya, ya seperti inilah. Malah ada yang mengatakan ibunda  mereka  sudah dipecat dari HKBP Simanungkalit.

“Sangat kejam, tidak ada rasa kemanusiaan lagi. Dan saya sudah siap, darah terakhir pun saya akan pertaruhkan untuk mempertahankan kuburan orang tua kami," ungkap Pantun.

Dia mengaku pernah dengar kata oppung (Alm. Oppung Lamris), bahwa tanah yang diberikan ke Zending Belanda itu akan  kembali lagi kepada pemberi jikalau Zending Belanda sudah tidak disini lagi.

" Itu selalu diungkapkan nenek sama kami," cetus keluarga Oppung Lamris.

Menurut cerita keluarga Kampung Gerson Simanungkalit pemberian tanah kepada Zending Belanda tanggal 4 April 1934 merupakan lokasi Seminarium HKBP Sipoholon sekarang.

Utusan dari kantor pusat HKBP pendeta Sogok Simanjuntak mengatakan, bahwa tanah itu sebentar lagi akan dieksekusi oleh pengadilan.

" Tanah itu sedang bermasalah dengan HKBP, " cetusnya dilapangan yang lagi bersengketa.

Raja Ihutan Simanungkalit merupakan seorang raja pada saat itu oleh Zending Belanda. Hal itu dibuktikan dengan Piso Loit yang ditandatangani di Padang tahun 1887. Piso Loit bukti bahwa seseorang itu seorang raja.

William Raja Ihutan  merupakan orang tua dari Guru Darius, Kampung Gerson dan Walter. Kampung Gerson merupakan anak kedua dari Raja Ihutan.

Kampung Gerson yang pada waktu itu menjabat Kepala Desa (kampung-red) tahun 1937. Memiliki lima anak, Mindo Simanungkalit, Tohap Simanungkalit, Tomos Simanungkalit, Toman Simanungkalit, Pantun Martin Simanungkalit.

Memiliki empat anak perempuan, Rosida Simanungkalit, Intan Simanungkalit, Odorita Simanungkalit dan Serepina Simanungkalit.

" Surat tanah atas pemberian tanah itu ke Zending Belanda masih lengkap sama keluarga kami," ujar Pantun Simanungkalit kepada mediaapakabar.com, Kamis (14/11) dirumahnya di Dusun Tornauli Desa Simanungkalit sambil menunjukkan surat-surat lengkap pemberian tanah tersebut.

Kata Pantun, pihaknnya tidak pernah menuntut HKBP atas pemberian tanah oleh para leluhur nya.  Malah mereka dituduh menuntut balik tanah itu.

Dalam surat itu jelas dibuat keterangan  batas-batas tanah yang diberikan ke Zending Belanda.

“Jadi tanah tempat pemakaman leluhur dan orang tua kami jelas pantun tidak ikut diberikan ke Zending”.

" Itulah sekarang yang dituntut HKBP untuk kami kosongkan. Tidak logis, kami dilarang mengubur ibu saya di tanah milik kami," ucap putra bungsu Kampung Gerson itu.

Mirisnya, acara penguburan orang tua mereka  tidak satu orang pun dihadiri pengurus gereja HKBP Simanungkalit Sipoholon. Baik itu Pendeta resorr  A. Sitorus dan pengurus gereja lainnya. Mereka takut karena ada larangan dari  dari kantor pusat HKBP.

Padahal kami itu jemaat HKBP Simanungkalit. Ibunda kami R. Br Situmeang juga semasa hidupnya masih aktif di koor (paduan suara) par Ari Kamis..Sebelum orang tua kami dikebumikan, saya sudah minta tolong kepada HKBP melalui biro hukumnya supaya tanah tempat ibu kami dikuburkan jangan diganggu,”bebernya haru.


(Win)

Editor   : Armen
Komentar

Berita Terkini