| Ist |
Dilansir dari Okezone, Rabu (4/9/2019) ada satu negara di wilayah Eropa yang terdeteksi paling berperan dalam penyebaran berita bohong tersebut.
"Ada (berita hoaks dari) internasional, banyakan dari dalam negeri. Tapi ada 20 lebih negara. Saya mengatakan belum tentu warga negara tersebut, tapi dari negara tersebut. Dari salah satu negara dari Eropa," kata Rudiantara.
Ia menjelaskan, pihaknya mengetahui itu berasal dari internasional setelah menurunkan 550 ribu URL hoaks di dunia maya. Kebanyakan disebarkan melalui media sosial Twitter.
"Itu kanal yang digunakan untuk menyebarkan hoaks paling banyak Twitter, itu aja. Dan, dari 550 ribu original accountyang posting, yang mention itu ada 100 ribu lebih," tutur Rudiantara.
Ia menambahkan, konten hoaks tersebut jelas sangat mengkhawatirkan, karena isinya bersifat adu domba. Sehingga, pihaknya sengaja melakukan pembatasan internet di bumi cenderawasih.
"Kalau beritanya ada macam-macam. Kalau informasi itu sih masih rendah tapu kalau sudah menghasut sudah mengadu domba nah itu sudah keterlaluan," pungkasnya.(ni)