Plt Bupati Asahan & Polres Asahan Bagikan Masker

Media Apakabar.com
Jumat, 20 September 2019 - 11:31
kali dibaca

Mediaapakabar.com-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia belakangan ini, mengakibatkan kabut asap dibeberapa daerah.

Hal tersebut seolah menjadi bencana tahunan, dari data WHO pada 2018, mengatakan dalam satu tahun setidaknya ada 543.000 anak-anak meninggal karena penyakit pernapasan terkait dengan polusi udara.

Polusi udara dianggap sebagai salah satu penyebab yang terlibat atas penyakit kanker pada anak-anak. Selain itu, wanita hamil yang terpapar polusi udara dapat memengaruhi 
Karhutla tentu merugikan banyak pihak, khususnya masyarakat sekitar yang lingkungannya tercemar polusi udara dari kabut asap pembakaran. Siapa pun setuju, peristiwa kabut asap ini tidak baik untuk kesehatan. Saat terpapar kabut asap setidaknya orang akan mengalami batuk-batuk, sesak napas, dan iritasi mata.

Namun, efek dari partikel berbahaya tidak hanya berdampak pada iritasi eksternal saja namun juga internal, yakni gangguan pernapasan.  setidaknya ada tiga masalah pernapasan yang akan dialami seseorang ketika terpapar polusi udara dalam rentang waktu tertentu.

Pertama adalah batuk dan iritasi tenggorokan. Hal ini bisa terjadi karena kadar ozon yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dalam sistem pernapasan. Gejala batuk-batuk dan perih di tenggorokan akan dirasakan beberapa jam setelah seseorang terpapar kabut asap. Ozon dapat terus membahayakan paru-paru, bahkan setelah gejala mengilang.

Masalah akibat dari kabut asap menggangu  kesehatan kedua yakni memburuknya gejala asma. Kabut asap buruk bagi kesehatan setiap orang apalagi bagi para penderita asma.
Paparan polusi udara dan kabut asap dapat memperburuk gejala asma. Dari studi yang dipublikasikan oleh Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA), sekitar 40 persen penderita asma akan mengalami serangan asma akut lebih banyak pada lingkungan berpolusi tinggi daripada lingkungan dengan polusi rata-rata.

Ketiga, kabut asap dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Gejala kerusakan paru-paru dapat berupa kesulitan bernapas dan nyeri pada dada. Kerusakan paru-paru dalam jangka panjang dapat menimbulkan beberapa penyakit kronis seperti TBC, pneumonia, bahkan kanker paru-paru demikian disampaikan Plt. Bupati Melalui Kepala Dinas Kesehatan  Dr. Haris Yudhariansyah.

Dalam Rangka mengurangi dampak dari kabut asap yang dua hari terakhir ini menyelimuti Kabupaten Asahan Khususnya Kota Kisaran.

Plt. Bupati Asahan Bekerjasama dengan Polres Asahan Melakukan Pembagian Masker Kepada Masyarakat yang dipusatkan di Jalan Cokroaminoto tepatnya di  depan  Kantor Lantas Kamis, (19/09/2019).

Plt Bupati Asahan  menyampaikan bahwa jumlah Masker yang dibagikan kepada masyarakat hari ini  sebanyak 2000 masker dari Dinas Kesehatan dan dari  Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Asahan sendiri telah membagikan 5000 Masker.

Masih dikatakan Surya,bahwa apa yang dilakukan adalah wujud Keprihatinan kita  terhadap apa yang dialami masyarakat pada saat ini, dampak dari Kabut asap sudah sangat mengkhawatirkan.

Untuk itulah sebagai antisipasi dampak yang ditimbulkan maka Pemerintah Kabupaten  Asahan melakukan pembagian masker kepada masyarakat. Disamping itu Bupati  menginstruksikan kepada Kadis Kesehatan untuk dapat memberikan pelayanan bagi masyarakat  yang terdampak akibat dari kabut asap  selama 24 jam di setiap puskesmas yang ada di Kabupaten Asahan.

Hadir dalam acara pembagian masker tersebut antara Wakapolres Asahan, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Drs. Jhon Hardi Nasution, MSi, Kadis Kesehatan, Kadis Kominfo dan para OPD.

(Depram)
Share:
Komentar

Berita Terkini