![]() |
| doc:apakabar |
Kanit Lantas Polsek Pancurbatu, Iptu Sehat Sinulingga mengatakan laju kendaraan baik dari Medan ke Berastagi atau sebaliknya harus terhenti, karena jalan terputus akibat tertimbun longsor.
"Kondisinya lumpuh total. Saat ini sedang kita upayakan evakuasi bekerjasama dengan Dinas PU," kata Sinulingga kepada wartawan.
Sinulingga menjelaskan, longsor ini tepatnya terjadi di Km 33, Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit. Lokasinya kata dia, bila dari Medan terletak sebelum tikungan Tirtanadi. "Longsor ini juga disertai oleh pohon tumbang," jelasnya.
Ia mengaku, peristiwa longsor itu diketahui terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Saat ini juga, sambung dia, kemacetan yang terjadi sudah mulai mengalami macet panjang. "Namun tidak ada korban dalam peristiwa ini. Mudah-mudahan proses evakuasi dapat cepat dilakukan," pungkasnya.
Tampak sejumlah pedagang terjebak macet khawatir pasokan barang ke luar daerah mengalami gangguan waktu pengiriman. Tidak tertutup penerima barang kecewa dan komplain sehingga penyuplai mengalami kerugian materi.
Bahkan puluhan pengendara balik arah ke Medan setelah mengetahui adanya longsor di lokasi tersebut. "Sudah tidak benar kalau kita lanjut ke Berastagi, maulah nanti kami bermalam di jalan ini. Lebih baik besok pagi kami berangkat ke Berastagi," kata salah seorang sopir mobil bermarga Bukit.
Kemacetan ini langsung mendapat respon dari Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumut Padian Adi S Siregar.
Padian mengatakan jalan Medan-Berastagi sangat emergency dilalui karena hanya satu-satunya jalur menuju Karo atau Aceh sehingga dibutuhkan jalur alternatif lain, seperti jalan layang atau jalan tol yang tidak membutuhkan jarak yang panjang untuk pembebasan lahan dibandingkan membuat jalur arteri baru.
Ia meminta Kementerian PUPR tidak boleh mempertahankan ego yang mempunyai planning sendiri terhadap jalan Medan-Berastagi dengan mengorbankan pengendara yang tidak bisa melewati jalur tersebut apabila ada longsor dan macet.
"Seringkali terjadi longsor di jalur Medan-Berastagi. Jadi tidak ada lagi alasan, pemerintah pusat harus membangun jalan alternatif lain yaitu jalan tol atau jalan layang karena dinilai lebih murah dibandingkan harus membangun jalur lain," ketusnya.
(ogi bukit)
