Hari Ini Menolak Lupa, Mengenang Munir Sang Aktivis

Anonim
Sabtu, 07 September 2019 - 10:01
kali dibaca
Ist
Mediaapakabar.com- 15 tahun berlalu dan kasus kematian Munir tak juga menyentuh dalang pembunuhannya. Bukti persidangan dan sejumlah temuan tim pencari fakta tak bisa menguaknya. Tetap menolak lupa!

Hari ini 15 tahun lalu, 7 September 2004, pegiat hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib tewas dibunuh. Sampai hari ini, misteri kematian Munir di dalam kabin pesawat Garuda belum sepenuhnya terkuak.

Dilansir dari Kompas, Sabtu (7/9/2019) Munir meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda, dengan transit di Singapura. Dia hendak sekolah di Ultrecht, mendalami perlindungan internasional terkait HAM.

Namun, takdir berkata lain. Di kabin pesawat Garuda bernomor penerbangan GA-974, Munir mengembuskan napas terakhir.

Dia sempat dikira sakit hingga akhirnya meninggal sekitar pukul 08.10 waktu setempat, dua jam sebelum pesawatnya mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam.

Dugaan sakit itu muncul karena Munir terlihat bolak-balik ke toilet selama penerbangan, selepas transit di Bandara Changi, Singapura.

Saat badan pendiri Imparsial dan aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) itu lemas di kursi bernomor 40G, seorang penumpang yang adalah dokter di bangku 1J berusaha memberi pertolongan. Munir pun pindah kursi ke sebelahnya.

"Menurut laporan, keadaan Pak Munir masih tenang, tapi dua jam menjelang pesawat mendarat di Schiphol, Pak Munir meninggal," kata Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia saat itu, Pujobroto, seperti dilansir harian Kompas edisi 8 September 2004.

Setibanya pesawat di Bandara Schipol sekitar pukul 10.00 waktu setempat, 10 petugas polisi militer langsung masuk ke pesawat. Selama 20 menit, penumpang dan kru pesawat tidak diizinkan turun untuk dimintai keterangan.

Sesudahnya, jenazah Munir pun diturunkan dan diurus otoritas bandara.  Proses autopsi sebagai bagian dari prosedur penanganan kematian di dalam penerbangan internasional dilakukan.

Istri Munir, Suciwati, didampingi sejumlah kolega menjemput jenazah Munir. Penerima penghargaan Right Livelihood Award 2000 ini kemudian dimakamkan di Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 12 September 2004.(ni)
Share:
Komentar

Berita Terkini