|

KPPU Pantau Komoditas Pangan di Pasar Roga Brastagi

Kali Dibaca
Teks Foto : Kepala KPPU Kanwil I Medan Ramli Simanjuntak pada saat sidak di Pasar Roga Brastagi. doc.apkabar
Mediaapakabar.com- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah Lembaga Negara yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 (UU No. 5/1999) tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. KPPU memiliki tugas dan kewenangan yaitu melakukan penegakan hukum persaingan usaha terhadap pelanggaran UU No. 5/1999, menyampaikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah pusat dan daerah, mengawasi merger dan akuisisi serta melaksanakan pengawasan kemitraan.

Kepala KPPU Kanwil I Medan Ramli Simanjuntak menuturkan, peran penting KPPU dalam menjalankan tujuannya salah satunya adalah fokus pada sektor strategis pangan. KPPU akan terus mengkaji secara konfrehensif mengenai sektor ini. Pola distribusi pangan melibatkan berbagai pihak mulai dari petani, pengumpul, pedagang besar, dan pedagang eceran, dimana masing-masing lini distribusi memiliki struktur pasar oligopopli dan cenderung membentuk harga yang mempengaruhi harga akhir yang diterima masyarakat.

Ramli berharap untuk kondisi pangan yang selalu fluktuatif ini perlu data yang komprehensf terkait dengan pasokan atau produksi dari setiap Kabupaten penghasil, untuk itu perlu adanya suatu Badan Usaha Pemerintah Daerah khususnya sektor pangan yang bertugas mengelola data dan stok pangan. Selain itu, BUMD harus memiliki fasilitas cold storage atau tempat penyimpanan sehingga jika harga rendah dapat ditampung oleh BUMD yang mengelola cold storage tersebut, jelas Ramli

Ini sangat diperlukan,lanjutnya, karena hal yang mustahil bisa mengendalikan harga jika tidak mempunyai sistem penyimpanan maupun pasokan yang terjaga sepanjang waktu. "Yang selalu menjadi masalah terkait cabe adalah manajemen stok mengingat cabe adalah komoditi yang tidak bisa bertahan lama" ungkap Ramli.

"Khususnya di Sumatera Utara salah satu pasar Hortikultura terbesar di Sumut adalah Pasar Roga (Berastagi, Kabanjahe) pasar tersebut menjadi fokus pusat pantauan dan penelitian KPPU selain Doloksanggul, Humbang Hasundutan dan Saribu Dolok, Simalungun," katanya, dalam pres rilis, Kamis (15/8/2019).

Ditambahkannya, untuk Pasar Roga menjadi pusat pertemuan jual beli petani, pengepul, pedagang besar untuk di distribusikan ke Medan (Pusat Pasar dan Pasar Induk Lau cih) dan Kabupaten/ Kota lainnya di Sumut, juga sampai ke Aceh, Riau, Batam, dan Jambi.

Setiap hari di Pasar Roga (kecuali hari minggu) menjadi denyut ekonomi untuk produk hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran lainnya. Cabe merah dan rawit menjadi primadona selama 3 bulan terakhir dan menjadi salah satu pembentuk inflasi tinggi di Sumut. Selama tiga bulan terakhir pantauan KPPU harga tidak pernah lebih dari rata-rata Rp. 40.000 dari petani ke pengumpul, malah pernah mencapai Rp. 75.000,- dan pantauan terakhir pada hari Senin, 12 Agustus 2019 harga cabai menjadi Rp. 50.000 - Rp. 55.000. Hasil pantauan ditingkat petani, penyebab harga tinggi diakibatkan  pasokan yang kurang. Terkait pasokan ini butuh informasi yang akurat dan ini menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi KPPU.

Melihat kondisi Pasar Roga yang saat ini maka diperluan perhatian Pemerintah agar fasilitas, sarana dan prasarana dapat berfungi dengan baik sehingga perlu perhatian yang serius, selian itu diperlukan informasi harga dan pantauan pasokan, dari pengalaman monitoring/ penelitian KPPU di Pasar Roga tidak ada yang mengetahui jumlah pasokan setiap hari baik cabai, tomat, dan sayuran lainnya.

"Buruknya kondisi infrastruktur Pasar Roga pada saat ini perlu menjadi pusat perhatian, sesekali para pejabat dan pemangku kepentingan dapat melihat kondisi Pasar Roga secara detil. Di saat hujan kondisi jalan sangat rusak parah, becek dan penuh lumpur. Padahal Pasar Roga adalah pusat hortikulutra terbesar di Sumut dan disanalah informasi harga pertama yang menjadi acuan penjualan hortikulturan di Sumut,"  imbuh Ramli.(abi)
Komentar

Berita Terkini