|

Tarif dari Maskapai Naik, Siap Siap Tarif Pengiriman Barang Juga Alami Kenaikan

Kali Dibaca
Pekerja Lion Percel memperlihatkan sebuah paket dokumen siap kirim di Kawasan Kedoya, Jakarta Barat (15/1/2019. Foto: Kompas.com
Mediaapakabar.com - Perusahaan penyedia jasa pengiriman barang sepakat menaikkan tarif pengiriman awal 2019 ini. Alasan utamanya adalah kenaikan tarif Surat Muatan Udara (SMU)  oleh maskapai atau airline.

"200 lebih perusahaan, mereka sepakat menaikkan tarif," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia ( Asperindo), Mohamad Feriadi seperti yang dihubungi Kompas.com, Rabu (16/1/2019).

Feriadi menyebutkan, hingga kini terdapat 200 lebih perusahaan penyedia jasa pengiriman barang menjadi anggota Asperindo. Semuanya telah menyetujui keputusan itu dalam sebuah rapat pada 2018.

"Kami membuat beberapa rekomendasi salah satunya adalah mendorong semua perusahaan anggota Asperindo untuk melakukan penyesuaian. Karena, apabila tidak melakukan penyesuaian saat kondisi seperti ini akan berat sendiri menanggung biaya begitu tinggi," tuturnya.

Dia menerangkan, kenaikan tarif itu selambat-lambatnya dilakukan perusahaan pada awal 2019. Adapun besaran  kenaikan tarif diserahkan kepada masing-masing perusahaan.

" Dikembalikan lagi masing-masing kepada perusahaan anggota asosiasi. Karena cost-nya pasti berbeda-beda tiap perusahaan," paparnya.

Feriadi menyebutkan, sejumlah perusahaan sudah ada yang menyesuaikan tarif dari tahun lalu.

"Jadi sampai akhir tahun lalu sudah ada beberapa perusahaan sudah melakukan penyesuaian. Kita memberikan arahan paling lambat Januari tahun ini, mereka sudah harus melakukan penyesuaian, selambata-lanmbatnya Januaari. Januari sudah clear lah," sambungnya.

Asperindo pun menyakini kenaikan tarif ini tidak akan menimbulkan keluhan dari masyarakat. Sebab, kenaikan tarif ini akan didukung dengan pelayanan yang lebih baik dan maksimal. Sehingga memberikan kepuasana kepada konsumen.

" Saya yakin bisnis yang paling penting adalah bagaimana kita membangun costumer experience. Jadi harga mungkin iya (dipermasalahkan), tapi masyarakat juga konsen soal kualitas layanan," ucapnya.

"Jadi yang diadu sebetulnya bukan mahal atau murahnya, tapi seberapa baik layanan. Seberapa baik costumer experience yang sedang dibangun oleh masing-masing penyedia jasa," tambah Feriadi. (AS)
Komentar

Berita Terkini