Gadis Saudi yang Kabur Mau Dibunuh dan Cari Suaka Disebut Putri Seorang Gubernur

| Kamis, 10 Januari 2019 | 09.02 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Rahaf Mohammed Alqunun (tengah) saat didampingi perwakilan dari UNHCR dan pejabat imigrasi Thailand, Senin (7/1/2019). Foto: AFP
Mediaapakabar.com - Rahaf Mohammed Al-Qunun, gadis 18 tahun asal Arab Saudi yang menghebohkan jagat dunia maya karena ditahan di bandara Bangkok, Thailand, saat mencoba menuju Australia.

Rahaf kabur dari keluarganya untuk mencari suaka di Australia. Jika dideportasi, dia takut akan mendapat perlakuan buruk dan bahkan dibunuh.

Seperti yang dilansir Kompas.com, Badan Pengungsi PBB, UNHCR, bahkat turun tangan untuk membantu situasi yang dihadapi perempuan itu.

Otoritas Australia mengonfirmasi, Rahaf sebagai pengungsi yang sah dan UNHCR telah meminta Australia untuk bisa menerimanya.

Lalu siapakah Rahaf? BBC melaporkan, tidak ada banyak yang diketahui tentang siapa sebenarnya gadis tersebut.

Namun, dia diketahui sebagai putri dari gubernur al-Sulaimi di Arab Saudi bagian utara.

Rahaf mengaku mendapat perlakuan kekerasan fisik dan psikologis dari keluarganya.

Kepala Polisi Imigrasi Thailand Surachate Hakparn menyatakan, ayah gadis itu membantah telah menyiksa putrinya atau memaksanya menikah.

Time mewartakan, sang ayah disebut tetap ingin putrinya kembali. Namun, dia tetap menghormati keputusannya.

"Dia punya 10 anak. Dia bilang, anak perempuannya itu terkadang merasa diabaikan. Tapi dia tidak merinci lebih lanjut," ucap Surachate.


Rahaf menolak untuk bertemu dengan ayahnya, yang tiba di Bangkok pada Selasa lalu. Dia mengaku takut dengan pertemuan semacam itu.

Seperti diketahui, Rahaf tiba di Bangkok dari Kuwait pada Sabtu (5/1/2019) malam. Tapi dia tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Australia sesuai rencana.

AFP mewartakan, Rahaf kemudian membagikan informasi terkini tentang upaya pelarian diri dari keluarganya menit demi menit di media sosial.


Nasibnya menjadi perhatian publik yang mengurung diri di kamar hotel bandara Bangkok untuk menghindari deportasi. Dia menegaskan haknya untuk mendapatkan suaka.

Dalam cuplikan video yang diunggah oleh aktivis hak asasi manusia menunjukkan seorang pejabat saudi mengeluhkan tentang pemerintah Thailand yang seharusnya menyita ponsel Rahaf.

"Ketika dia tiba, dia buat akun baru dan pengikutnya bertambah menjadi 45.000 dalam sehari," katanya, seperti yang terdengar dalam video tersebut.

"Akan lebih baik jika mereka menyita ponselnya ketimbang paspornya," ucapnya. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI