|

DBD Merajalela di Medan Dan Madina

Kali Dibaca
Nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD), aedes aegypti ‘merajalela’ di Medan dan Madina. Doc:apakabar/abi
Mediaapakabar.com-Nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD), aedes aegypti ‘merajalela’ di Medan dan Madina. Salah satu dari penyebabnya di dua kabupaten/kota tersebut, penyakit ini diawali dengan gejala demam, pusing, nyeri pada otot, bola mata dan lainnya itu sedang mewabah.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, NG Hikmet mengaku adanya lonjakan kasus DBD di beberapa kabupaten kota di Sumut, antara lain Medan dan Madina. Namun peningkatan kasus tersebut tidak membuat status KLB di Sumut.

“Ada lonjakan kasus DBD yang tiba-tiba di Kota Medan dan Mandailing Natal, masih anggap pra KLB,” kata Hikmet di Medan pada Rabu (30/1/2019).

Dilaporkan di Madina ada lima kasus baru DBD pada waktu bersamaan pada Januari ini. Sementara di Medan ada beberapa kali laporan dari Rumkit Putri Hijau sekitar dua minggu lalu. Namun belum ada laporan meninggal dunia.

Hikmet menambahkan,saat ini petugas masih berada di Madina guna melakukan penyelidikan epidemiologi karena adanya laporan wabah. Penyelidikan itu untuk mengetahui kebenaran penyakit tersebut.

“Dilihat kasusnya itu benar memang DBD atau tidak, penularannya dari mana, tempat-tempat kemungkinan ada resevoar perindukan sektornya, diteliti semua,” ujarnya.
Dikatakan Hikmet, selain melakukan penelitian epidemiologi, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Dinkes kabupaten/kota setempat dan petugas di lapangan terkait penanganan kasus DBD tersebut.
Sementara itu,Kepala Bidang P2P Dinkes Medan, Mutia Nimpar mengakui ada peningkatan kasus DBD di Kota Medan sejak Oktober 2018. Pada Oktober, tercatat 208 kasus DBD, November 2018 sebanyak 230 kasus dan Desember 240 kasus. Sementara Januari 2019 baru tercatat 180 kasus.
Menurut Mutia, ada 10 daerah endemis DBD di Kota Medan, antara lain Medan Selayang, Medan Helvetia, Simalingkar, Medan Deli dan Medan Sunggal.
“Memang ada peningkatan karena efek dari Oktober sampai Januari kan memang udara kita ini masih ada hujan, panas, berkembang biaknya (nyamuk) kan cepat di udara seperti ini,” tururnya.
Dikatakannya, sebagai pencegahan, pihaknya sudah melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) setiap Jumat oleh Puskesmas – puskesmas bekerjasama dengan lintas sektor yakni kelurahan dan kecamatan.
“Tiap Jumat kita buat PSN, kita turun gotong-royong, lakukan pemeriksaan jentik-jentik. Disamping itu warga juga harus membersihkan sendiri rumahnya, 3 M itu paling penting,” pungkasnya. (abi)
Komentar

Berita Terkini