Ternyata Rumah Pegawai Bank Renggut 4 Nyawa Terkena Bencana Tak Direstui Sang Kakek

| Minggu, 09 Desember 2018 | 09.41 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Warga mengevakuasi Ade dan keluarganya yang tertimbun longsor. (Bali Express)
Mediaapakabar.com -  Rumah pegawai bank swasta di Bali, Made Oktara Dwi Palguna alias Ade (30) terseret longsor pada Sabtu (8/12). Bencana itu menyebabkan istri Ade dan tiga anaknya meninggal dunia. Ade sendiri harus mendapat perawatan intensif lantaran menderita luka cukup parah.

Kakek Ade, Komang Sumiarna mengatakan, sejak awal dia tidak merestui cucunya membeli rumah di Jalan Pratu Made Rambug Gang Taman Beji 4 Banjar Sasih Desa Batubulan, Gianyar, Bali. Sebab, di daerah tersebut sudah pernah terjadi longsor.

Komang Sumiarna menambahkan, di sebelah timur rumah Ade terdapat sungai. Hal itulah yang membuat Sumiarna melarang cucunya mengambil rumah di tempat itu.

“Awalnya kan sebelum beli itu, rumah di sana sudah longsor 3 kali. Nah dari tiga rumah itu, masih kosong satu. Yang dua sudah diperbaiki penghuninya sendiri. Lalu yang kosong ini diambil cucu saya. Saya kan bilang kok beli rumah di pinggir kali. Kalau orang Bali kan nggak boleh,” ungkap Sumiarna seperti yang dilansir Bali Express.

Rumah yang akhirnya dibeli oleh Ade dipercayakan diperbaiki oleh pemborong. Kabarnya arsitek rumah itu pun teman kuliah Ade asal Lombok.

Sumiarna mengaku sempat memarahi arsitek tersebut lantaran kondisi rumah di TKP yang sedemikian rupa dan rawan longsor.

Seperti diketahui, peristiwa Sabtu pagi (8/12) menewaskan empat orang korban, yakni Ni Made Lintang Ayu Widnerti (33) dan tiga anaknya, Ni Putu Delta Larasati Palguna (6), Made Dian Aditya Palguna (4) dan Nyoman Adi Anggara Palguna (2).

Sedangkan Ade sebagai kepala keluarga ditemukan selamat. Namun dia harus mendapatkan perawatan intensif di RS Sanglah lantaran menderita luka cukup serius.

Kejadian bermula saat mertua perempuan Ade, Ni Nyoman Martini (53), yang juga ikut tinggal di rumah itu sedang sembahyang di merajan rumah. Saat itulah sang mertua menjadi saksi mata longsornya rumah tersebut.

Singkat cerita mertua perempuan Ade ini kemudian mendatangi Sumiarna di rumahnya yang hanya berjarak satu kilometer dari TKP.

“Ade metanem (tertimbun),” ucap Ni Nyoman Martini sambil menangis tersedu-sedu.

Mendengar kabar duka tersebut, Sumiarna langsung menuju TKP. Di TKP Sumiarna mengangkat cucunya yang dievakusi menggunakan kasur dan tambang. Ia dibantu warga dan petugas.

“Kondisi Ade komel-komel di pipi kirinya. Kayak disembelih gitu. Dia tidak bisa melek sama sekali. Tangan kirinya remuk, leher juga patah. Paha kiri tertancap aluminium dan perutnya harus dioperasi karena usisnya pecah,” ungkapnya.

Pihaknya sudah sempat menyangka Ade tidak ada (meninggal) beserta seluruh keluarganya. Namun saat evakuasi, tangan Ade tiba-tiba menggenggam tangan Sumiarna. Bersamaan dengan itu, Sumiarna mengucapkan “Ade ini kakek.”

“Saya ada di samping tubuh Ade yang berlumuran darah sembari memegangi pipinya yang terkoyak,” tambah Sumirna.

Saat akan dirujuk ke RSU Sanglah tersebut, dengan mata yang tidak bisa dibuka, Ade kerap bertanya dimana anak dan istrinya. Sumiarna pun berusaha menenangkan diri cucunya tersebut. “Tanya bagaimana anak-anak. Saya jawab anak-anak sudah ada yang ngurus,” ungkapnya. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI