Korban Hilang Banjir Bandang Masih Belum Ditemukan, Edy Rahmayadi Minta Waktu Pencarian Ditambah

| Selasa, 25 Desember 2018 | 08.47 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Edy Rahmayadi. Foto: Kompas.com
Mediaapakabar.com - Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi meminta waktu pencarian korban banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi diminta untuk segera ditambah.

Hal tersebut diungkap Edy saat meninjau lokasi bersama Ketua TP PKK Sumut Ny Nawal Lubis Edy Rahmayadi.

Dari proses pencarian korban, Gubsu meminta agar waktunya ditambah dua hari lagi. Sebab standar pekerjaan hanya dilakukan tujuh hari, namun dapat ditambah dengan berbagai pertimbangan, seperti permintaan warga serta kemungkinan penemuan korban hilang.

Sebagaimana diketahui, dari 12 korban, lima diantaranya selamat, lima dari tujuh yang hilang sudah ditemukan, sehingga menyisakan dua korban lagi.

“Bolehlah ditambah dua hari lagi. Tolong yang muslim dikerahkan, karena (petugas) yang beragama Kristen, mereka mau merayakan Natal,” ujarnya, seperti yang dilansir Pojoksumut.com,  Senin (24/12/2018).

Menurutnya, kejadian ini tidak pantas disebut bencana karena Tuhan, melainkan ada unsur kelalaian manusia yang kemungkinannya dapat dilihat dari banyaknya kondisi hutan yang rusak di bagian hulu. Hal ini dibuktikan dengan material kayu bercampur lumpur yang tertumpuk di sepanjang aliran sungai dan merusak rumah, sawah serta memakan korban nyawa.

“Saya yakin ini ulah kita juga. Jadi saya minta ini diperiksa, kenapa bisa begini. Tolong diperiksa bagian sana (hulu), jangan-jangan ada yang tidak benar (perusakan hutan),” ujarnya saat mendatangi Desa Lokkotan,.

“Tuhan telah berikan kekayaan kita berupa air yang banyak, tetapi kenapa bisa membunuh. Jadi saya minta TNI/Polri, Pemerintah (Kabupaten) Dairi untuk kita menjaga bumi kita ini,” tegasnya.

Sementara di Desa Bongkaras, Edy menyusuri lokasi banjir bandang hingga ratusan meter ke hulu. Dari tempat itu, dirinya berdialog bersama Wakil Bupati serta Kepala BPBD Dairi Bahagia Ginting yang hingga hari ke tujuh, masih melakukan pencarian menggunakan satu alat berat dan mesin pemotong.

“Kita tidak mau menyalahkan siapapun dalam hal ini. Tetapi kedepan tolong dipastikan perusakan (hutan) jangan lagi terjadi. Tidak setahun, dua tahun, lima tahun lagi, tetapi cucu kita nanti bisa merasakan akibatnya (dari perusakan hutan),” sebutnya lagi.

Edy juga menegaskan bahwa kehadirannya di tempat itu, adalah semata untuk melihat bagaimana kondisi rakyat. Meskipun diketahui, Desa tersebut berada di perbatasan antara Sumut dan Aceh. Lokasinya juga cukup jauh dari perkotaan.

“Kalau bantuan itu tidak sulit, walaupun mungkin tidak banyak, tetapi itu tidak masalah. Persoalannya adalah, bagaimana kita menjaga alam ini untuk anak cucu kita nanti,” imbaunya di hadapan ratusan warga yang berkumpul untuk mengambil bantuan air bersih dari pemerintah.

Kepala BPBD Dairi Bahagia Ginting dalam hal ini melaporkan bahwa kondisi medan yang sulit, membuat pihaknya hanya bisa mendatangkan satu alat berat yang penempatannya juga terbatas. Mengingat kondisi areal aliran Sungai Sibongkaras tidak memungkinkan untuk dimasuki alat berat.  (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI