|

Egianus Kogoya Pemimpin KKB yang Sekap dan Bunuh Pekerja Proyek, Ini Catatan Kriminalnya

Kali Dibaca
Organisasi Papua Merdeka. Foto: Istimewa
Mediaapakabar.com - Kapolda Papua dalam Konpres yang digelar di Hanggar Bandara Mozes Kilangin Timika, Jumat(7/11/2018) pukul 08.0 WIT lalu mengatakan, dari keterangan saksi pada 1 Desember 2018, 28 karyawan PT Istaka Karya berada di camp.

Saat bersamaan ada kegiatan masyarakat bakar batu. Beberapa karyawan PT Istaka Karya kemudian turut ikut bakar batu yang dimulai dari pukul 09.00-15.00 WIT.

Selesai acara bakar batu, KKB pimpinan Egianus Kogoya mendatangi camp, seluruh karyawan yang ada di camp dikeluarkan dan diperintahkan untuk diikat.

Puluhan karyawan tersebut kemudian digiring sampai ke Kampung Karunggame. Mereka kemudian bermalam di kampung tersebut kondisi tangan terikat.

Hari Minggu (2/12) sekitar pukul 07.00 WIT, anggota KKB mendatangi PT Istaka Karya dan memaksa seluruh 25 karyawan keluar.

Kemudian seluruh pekerja dibawa ke Bukit Puncak Kabo. Di tengah jalan mereka dipaksa berbaris dengan formasi 5 saf, lalu berjalan jongkok.

Dalam suasana kegirangan menari waita (tarian perang) merkea juga berteriak-teriak khas di pedalaman Papua. Lantas secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat, dan sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah.

Tentu hal ini tidak akan terjadi tanpa perintah dari ketua kelompok separatis Egianus Kogoya, lantas siapakah sosok Egianus yang begitu sadis

Pengamat Terorisme, Sidney Jones, mengatakan kelompok Egianus Kogoya merupakan sempalan dari Kelly Kwalik, komandan dari sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM). Diketahui Kelly Kwalik tewas dalam penyergapan polisi pada 2009.

Egianus beserta anak buahnya, dikenal lebih militan dan mayoritasnya berusia muda. Egianus tercatat pernah berbuat onar ketika Pilkada serentak Juli lalu, dimana mereka berupa mencegah pelaksanaan pemilu.

“Biasanya OPM ini terdiri dari faksi-faksi. Di Nduga, satu faksi yang berkuasa dan sempalan dari Kelly Kwalik yang dulu bergerak di Timika. Tapi orang-orang ini muda dan lebih militan,” jelas Sidney Jones.

Sidney menegaskan, Polri dan TNI harus menangkap Egianus Kogoya dan anak buahnya dalam keadaan hidup-hidup agar aparat bisa memperoleh informasi detail tentang jumlah anggota OPM yang tersisa. Termasuk asal senjata yang didapat.

Sidney juga berharap agar aparat tak serampangan dalam memburu kelompok separatis tersebut, apalagi sampai menyerang masyarakat sipil. Karena jika hal itu sampai terjadi, kata Sidney, ia khawatir akan ada serangan balasan.

“Mudah-mudahan tidak ada penembakan terhadap orang sipil dan tidak ada penyiksaan terhadap orang setempat untuk mendapat informasi. Itu masalah yang terjadi di masa lalu,” jelasnya.

Sementara itu, Kapendam XVII Cendrawasih, Muhammad Aidi, mengungkapkan bahwa jumlah anggota kelompok Egianus sekitar 50 orang. Mereka, klaimnya, memiliki senjata lengkap berstandar militer.

Dilansir dari BBC, keberadaan kelompok OPM di Kabupaten Nduga, menurut Aidi, mulai terdesak ketika pemerintah membangun jalan Trans Papua. Sebab selama ini Pegunungan Tengah dikenal sebagai markas OPM.

“Dengan adanya jalan Trans Papua, mulai lah daerah ini terbuka dari isolasi. Terbukanya jalan, mereka (kelompok OPM) merasa terusik. Sebab otomatis TNI dan Polisi bergerak mendekati arah mereka,” ujar Muhammad Aidi.

Dari catatan Polisi, sejumlah kasus yang didalangi Egianus Kogoya seperti yang dilansir Pojoksatu.id, Minggu (9/12/2018) di antaranya:

Pada 25 Juni 2018, kelompok Egianus Kogoya menembaki pesawat Twin Otter Trigana Air yang saat itu disewa Brimob Polri. Pasukan Brimob ini sedang bertugas untuk mengamankan pilkada. Dua orang juga terluka akibat insiden tersebut.

Pada Oktober 2018, kelompok Egianus Kogoya pernah menyekap belasan guru yang sedang bekerja di SD YPGRI 1, SMPN 1 dan tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Mapenduma, Nduga.

Pada Desember 2017, pekerja Trans Papua di Kecamatan Mugi diserang kelompok Egianus Kogoya. Pekerja proyek bernama Yovicko Sondakh meninggal dan seorang aparat luka berat.

Pada 1-2 Desember 2018, sebanyak 25 pekerja PT Istaka Karya, kontraktor jalan Trans Papua, dibawa ke Bukit Puncak Kabo. Dengan tangan terikat, mereka ditembak. Sembilan belas orang disebut tewas. Menurut Kapendam XVII Cendrawasih, Muhammad Aidi, aparat akan menangkap hidup atau mati kelompok tersebut.

Namun demikian, jika mereka bersedia menyerahkan diri beserta senjatanya, TNI bakal menjamin keamanan mereka dan diampuni dari proses hukum.

“Jadi imbauan menyerahkan diri sudah sejak awal kami lakukan. Tidak ada yang perlu dinegosasikan. Menyerah atau berhadapan dengan moncong senjata,” ujarnya.

Dalam operasi penangkapan yang dilakukan pasukan gabungan Polri-TNI ini, klaim Aidi, pihaknya akan mematuhi hukum dan akan memperhatikan pinsip hak asasi manusia. Para anggotanya sudah diperintahkan untuk menyasar orang-orang yang membawa senjata.

“Saya pastikan, kita tidak akan melakukan tindakan yang membabi buta dengan membumihanguskan kampung di sana,” jelasnya.

“Yang kami serang adalah kombatan dan mereka itu diidentifikasi dengan membawa senjata. Jika ada orang tak membawa senjata, tidak mesti ditembak tapi ditangkap.”

Dia juga mengatakan, pihaknya belum mengetahui motif penyerangan tersebut. Informasi yang menyebutkan bahwa seorang pekerja memfoto kegiatan HUT Kemerdekaan Papua sebagai penyebab insiden penyerangan ini, belum bisa dipastikan kebenarannya.

“Kalau berdasarkan kesaksian JA, dia tidak tahu soal foto itu,” imbuh Aidi seraya menyebut saksi korban kini berada di markas Batalyon 756 dan tiga pekerja yang terluka dirawat di RS Wamena. Hingga saat ini, aparat masih berusaha menuju lokasi untuk mengevakuasi para korban.(AS)
Komentar

Berita Terkini