WWF Soroti Kasus Kematian Ikan Paus di Wakatobi, Isi Perutnya Penuh Sampah

| Selasa, 20 November 2018 | 09.48 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Isi perut bangkai paus sperma di Wakatobi (dok. istimewa)
Mediaapakabar.com - Bangkai paus terdampar di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara mengejutkan karena isi perut yang dipenuhi aneka ragam sampah. WWF Indonesia telah mengamati secara umum terkait temuan paus sperma itu.

"Berdasarkan analisis beberapa foto yang dikirimkan oleh tim WWF Indonesia program Wakatobi bahwa Paus yang terdampar di pulau Kapota, Wakatobi adalah jenis paus sperma atau paus kepala kotak (Physeter macrocephalus). Hal ini terlihat dari bentuk kepalanya yang besar dan kotak di bagian depan serta bentuk rahangnya yang slim serta dijumpai adanya gigi pada rahang paus tersebut. Sebab paus sperma adalah jenis paus terbesar dari golongan paus bergigi," kata Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti, saat dikonfirmasi, Selasa (20/11/2018).

WWF belum mengetahui pasti penyebab kematian paus itu. Namun, jika diamati secara umum, Dwi menyebut ada kemungkinan paus itu mati karena mencerna sampah-sampah di laut.

"Terkait dugaan kematian Paus akibat sampah plastik, WWF belum dapat menyimpukan dikarenakan tidak melakukan nekropsi secara langsung dan tidak mendapatkan detail informasi. Sehingga tidak mengetahui secara pasti titik persebaran sampah tersebut di saluran pencernaannya dan bagaimana kondisinya, apakah menyumbat, menginfeksi dan lain sebagianya. Sebab beberapa kasus mekanisme tubuh mahluk hidup dapat mengeluarkan benda asing secara natural asalkan jumlahnya tidak banyak, tidak menyumbat saluran pencernaan serta tidak menginfeksi atau bahkan meracuni tubuhnya," ungkap Dwi.

"Untuk itu adanya indikasi kematian disebabkan oleh asupan cemaran plastik sampah tersebut bisa saja terjadi, namun tidak dapat dipastikan karena tidak dilakukan pengamatan yang komprehensif di antaranya disebabkan kondisi Paus sudah kode 4 (pembusukan tingkat lanjut), kondisi paus yang sudah tidak utuh, pembedahan (nekropsi) tidak dilakukan oleh tenaga ahli sehingga analisisnya terputus sampai proses temuan saja," ujar Dwi seperti yang dilansir Detikcom.

Dia meminta jika ada kasus paus terdampar lagi, masyarakat diimbau untuk tidak mendekat ke bangkai paus. Selain itu Dwi menyarankan tidak ada aktivitas yang bisa mengubah kondisi bangkai. Bagi warga yang menemukan, diminta segera menghubungi pihak terkait (BKSDA, Kepolisian atau BPSPL maupun Dokter Hewan Forensik) agar jejak informasi yang didapat lengkap.

"Dan WWF juga mengimbau kepada masyarakat sebaiknya untuk tidak mendekati bangkai paus tanpa menggunakan pelindung diri (personal protect equipment/PPE) misalnya masker, sarung tangan dan jas plastik. Karena tidak menutup kemungkinan bangkai paus tersebut membawa penularan bibit penyakit baik itu berupa bakteri, virus, maupun mikrobial lainnya yang dapat menularkan penyakit," ucap Dwi.

"Terlebih kondisi paus yang sudah mengalami pembusukan tingkat lanjut sehingga bakteri-bakteri pembusuk juga dapat masuk ke tubuh manusia baik akibat kontak langsung maupun masuk melalui saluran pernafasan. Sehingga dapat dimungkinkan timbulnya berbagai penyakit baik itu berupa gejala alergi, demam tinggi maupun infeksi," sambungnya.

Sebelumnya, penemuan bangkai paus sperma itu berawal saat Taman Nasional Wakatobi SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) Wilayah I Wangi-Wangi menerima laporan dari staf WWF SESS adanya bangkai paus yang terdampar di perairan Pulau Kapota, Resort Wangi-Wangi. Personel SPTN Wilayah I bersama dengan WWF SESS, tim dosen Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan (AKKP) Wakatobi, dan masyarakat sekitar lalu melakukan peninjauan lapangan pada 19 November 2018 sekitar pukul 08.00 Wita.

Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, jenis paus yang terdampar merupakan paus sperma (Physeter macrocephalus) dengan ukuran panjang kurang-lebih 9,5 meter dan lebar kurang-lebih 4,37 meter dalam keadaan mati dan sudah mulai membusuk. Heri mengatakan, bangkai paus itu rencananya akan dikubur hari ini Selasa (20/11).

Saat warga membedah tubuh paus itu, ditemukan sampah plastik berupa tali rafia, gelas, sendal, kantong plastik, karung plastik yang mencapai berat 5,9 kg.  (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI