Menko Perekonomian Rekomendasikan Impor Jagung Pakan Ternak

| Minggu, 04 November 2018 | 13.07 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
foto: apakabar/nor 
Mediaapakabar.com-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, meminta Menteri Pertanian mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100 ribu ton pada Jumat (2/11/2018). 

Selain itu, Darmin Nasution Menko Perekonomian itu juga menyampaikan kepada media, telah  menugaskan pula Perum Bulog untuk melakukan impor.  

Impor jagung ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan para peternak mandiri. Hal tersebut diputuskan usai pemerintah melangsungkan rapat koordinasi (rakor) terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta. 

Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan, produksi jagung nasional 2018 surplus bahkan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Kelebihan produksi diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018 dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional. 

Hal tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa pakan ternak yang naik belakangan ini diakibatkan melesetnya data produksi.

Berdasar data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen.  

Itu artinya, pada 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen dan produktivitas meningkat 1,42 persen (BPS,2018).

Prakiraan ketersediaan produksi jagung pada november sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare.  

Untuk Desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare, tersebar disentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung dan provinsi lainnya. 

Sementara dari sisi kebutuhan, data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK.  

Terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Philipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton. 

Secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. Di wilayah Indonesia Barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37 persen dari produksi nasional. 

Sedang ke wilayah Indonesia Timur, panen cenderung mulai April-Mei.  Sentra produksi jagung tersebar yang di 10 Provinsi yakni, Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumut, NTB Jabar, Gorontalo, Sulut, Sumbar. 

Total produksi sudah mencapai 24,24 juta ton PK. Artinya 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik.

Terkait harga jagung untuk pakan ternak, kebutuhan jagung untuk pabrik pakan saat ini sebesar 50 persen dari total kebutuhan nasional sehingga sensitif terhadap gejolak. 

Kendalanya, karena beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistik murah. 

Saat ini tercatat ada 93 pabrik pakan di Indonesia, di Sumut 11 unit, Sumbar 1 unit, Lampung 5 unit, Banten 16, unit Jabar 11 unit, DKI Jakarta 6 unit, Jateng 12 unit.  

Jatim 21 unit, Kalbar 1 unit, Kalsel 2 unit, dan Sulsel 7 unit. Beberapa pabrik pakan di daerah seperti, Banten, DKI Jakarta, Kalbar dan Kalsel, tidak berada di sentra produksi jagung.

Di 2018, Pemerintah bertekad memenuhi kebutuhan jagung sepenuhnya dari produksi dalam negeri tanpa impor jagung sama sekali. 

Untuk mencapai target tersebut, Kementan mengalokasikan bantuan benih jagung seluas 2,8 juta hektare yang tersebar di 33 Provinsi sesuai dengan potensi lahan. 

lokasi pabrik pakan, dan ekspor. Dampak dari kebijakan ini sudah dirasakan dengan adanya peningkatan produksi.

Selain bantuan benih, di 2018 ini Kementan juga telah menganggarkan pembangunan pengering jagung (dryer) sebanyak 1.000 unit untuk petani. 

Hal ini dilakukan karena sebagian besar petani jagung tidak memiliki alat pengering, sehingga menyebabkan timbulnya persoalan kualitas jagung yang dipanen pada musim hujan kurang baik dan cenderung basah.

Pemerintah Propinsi juga didorong untuk berperan dengan membangun buffer storage, yaitu menyerap surplus produksi pada waktu panen dan menyimpannya untuk dilepas kembali pada saat produksi menurun.

Upaya Kementerian Perdagangan membangun sistem resi gudang di berbagai daerah belumlah berfungsi optimal, sehingga petani tetap terpaku pada sistem konvensional. 

Dari laporan lapangan misalnya, gudang dan pengering untuk resi gudang tidak berfungsi optimal ada di Luwu Raya, Minahasa Selatan, Garut, dan Lampung. 

Seharusnya, ketika terjadi akumulasi panen pada suatu periode, program resi gudang dimaksimalkan agar nilai tambah dan risiko produsen serta konsumen dapat dimitigasi.

Harga jagung dinilai meningkat di akhir-akhir ini bukan karena kekurangan stok. Karena dari harga di tingkat petani tersebut, ditambah dengan biaya processing dan penyusutan bobot akibat pengeringan sebesar 15 persen.  

Maka harga jagung dipengguna akhir tidak lebih dari Rp 4.250 per kg. Hal ini menunjukkan disparitas harga di petani dan di industri menjadi indikasi diperlukannya pembenahan rantai pasok jagung.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementan berinisiatif menyediakan 1.000 alat pengering (dryer) untuk pengolahan pascapanen, agar jagung bisa disimpan dan ditransportasikan dengan baik sehingga bisa meminimalisir terjadinya disparitas harga. 

Kementerian Pertanian akan senantiasa membantu industri pakan atau pengguna lainnya yang kesulitan mencari jagung. 

Pengguna yang kesulitan mendapatkan jagung dapat langsung berkomunikasi dengan Direktorat Serealia Kementan. 

Dalam jangka panjang, Kementan menyatakan siap mendampingi terbentuknya kemitraan Business to Business (B to B) antara industri pakan dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sehingga industri mendapat jagung sesuai spesifikasi dan pasokan jagung. (nor)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI