Termakan Hoax Penculikan Anak dari WhatsApp, Massa Keroyok Tahanan Hingga Tewas

| Selasa, 30 Oktober 2018 | 10.37 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Warga keroyok tahanan hingga tewas karena termakan isu hoaks tentang penculikan anak yang tersebar lewat aplikasi Whatsapp, Jumat (26/10/2018). (El Tiempo via Daily Mail)
Mediaapakabar.com -  Pesan berantai melalui layanan pesan instan WhatsApp tentang hoaks penculikan anak berujung pada tewasnya sejumlah orang di India.

Warga yang termakan isu melakukan pengeroyokan terhadap seseorang yang dicurigai sebagai penculik anak-anak.

Kini, fenomena itu menyebar di Bogota, Kolombia. Seorang pria tewas dan dua lainnya terluka karena karena dituding sebagai penculik anak pada Jumat lalu.

Daily Mail mengabarkan pada Senin (29/10/2018), massa mengeroyok ketiganya tanpa ampun, bahkan 8 polisi harus terluka saat berupaya mengamankan situasi.

Awalnya, polisi menahan ketiga pria yang dikeroyok untuk kejahatan yang berbeda. Kemudian, polisi sedang dalam perjalanan untuk memindahkan mereka ke pusat komando, namun warga menyerang mereka dan ketiga tahanan tersebut.

Korban tewas diidentifikasi sebagai warga negara Venezuela yang meninggal di rumah sakit di kota Ciudad Bolivar.

Dua tahanan lainnya adalah warga Kolombia, kini sedang dalam masa perawatan. Identitas atau kejahatan mereka tidak diungkap oleh polisi.

Dalam rekaman video yang beredar, menunjukkan seorang polisi berusaha untuk mencegah kerumunan massa yang datang dari belakang dan melempari para tahanan.

Sorang polisi juga terlihat mencoba menahan seorang warga yang mengejar salah satu dari tahanan yang dicurigai melakukan penculikan terhadap seorang bocah laki-laki.

Massa mendapat isu dugaan penculikan anak di bawah umur di Cali, sebelah barat daya Bogota, yang menyebar dengan cepat melalui pesan WhatsApp.

Sekretaris Keamanan Cali, Andres Villamizar, mengatakan hoaks penculikan anak yang tersebar di layanan pesan instan itu disertai dengan foto anak.

Dia meminta publik untuk lebih teliti dalam menerima pesan melalui pesan berantai atau unggahan media sosial.

"Masalah yang berkaitan dengan keselamatan anak di bawah umur selalu menarik perhatian," kata Villamizar.

"Dalam hal itu, kami setuju bahwa masyarakat sangat waspada. Namun, kami juga meminta agar warga tidak berkontribusi terhadap kepanikan yang tidak perlu. Coba verifikasi informasi sebelum menyebarkannya," imbuhnya. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI