Prabowo Sebut Jokowi Pemimpin Negara Ugal-ugalan, Bandingkan dengan Mantan Mertuanya

| Rabu, 17 Oktober 2018 | 09.23 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Prabowo Subianto.
Mediaapakabar.com - Prabowo Subianto kembali melontarkan kritik pedas yang ditujukan kepada lawan politiknya, Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, kepemimpinan Indonesia saat ini sudah ugal-ugalan dalam mengelola negara.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra itu melalui akun Facebook pribadinya, Selasa (16/10/2018).

Dalam unggahannya itu, dirinya mengklarifikasi makna ‘Make Indonesia Great Again’ yang disampaikan dalam orasi politiknya pekan lalu.

Dia membantah bahwa slogan itu plagiat dari ucapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Ia menjelaskan bahwa pernyataannya itu buah gagasan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, bukan malah dianggap spontanitas yang muncul belakangan ini saja.

Di sisi lain, ia juga menilai pemerintahan kerap membuat keputusan yang tidak matang. Termasuk persoalan keadilan yang mesti dibenahi dalam empat tahun terakhir ini.

Berbagai contoh inilah yang membuatnya menilai pemerintah telah mengelola negara secara ugal-ugalan.

“Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah,”

“Hukum menjadi alat tawar menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan,”

“Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya kabinet kerja, akibat saling tuding antar kementrian dan lembaga negara,”

“Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara,” kata Prabowo.

Menurutnya, cara pemerintahan saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan kepemimpinan sebelumya.

Seperti Presiden ke-1 RI, Soekarno yang ia nilai berhasil mengobarkan semangat revolusi.

Tak ketinggalan, ia juga membandingkan dengan gaya kepemimpinan mantan mertuanya, Presiden Soeharto.

Ia menyebut, Soeharto telah berhasil mengedepankan pembangunan bangsa yang dibuktikan dengan stabilnya harga-harga kebutuhan pokok.

Jauh jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.

“Stabilitas ekonomi terjaga, pertumbuhan ekonomi tinggi, kita melakukan swasembada pangan bahkan kita disebut-sebut sebagai salah satu negara Macan Asia yang segera bertranformasi dari negara agraris menjadi negara industri maju,”

“Tetapi ternyata pembangunan saja tidak cukup untuk mengembalikan kejayaan bangsa, gagasan demokratisasi muncul di penghujung milenum kedua,” jelasnya.

Berikut pernyataan lengkap Prabowo Subianto yang menyebut kepemimpinan Indonesia saat ini ugal-ugalan:

“Make Indonesia Great Again”

Gagasan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, bukanlah spontanitas yang muncul belakangan ini saja. Jauh sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempopulerkan slogan ” Make Amerika Great Again, alhamdulillah sebagai bagian dari perjuangan gagasan dan pemikiran, saya telah menuliskan pemikiran itu ke dalam sebuah buku yang saya beri judul “Kembalikan Indonesia” pada tahun 2004 dan “Membangun Kembali Indonesia Raya” pada tahun 2007/2008. Sebuah pemikiran dan semangat yang banyak didasari dari semangat yang sudah tertanam sejak 73 tahun yang silam ketika para pendiri bangsa merumuskan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dan mimpi itu sangat mahal harganya, ditebus dengan darah dan air mata.

Untuk mengembalikan kejayaan Indonesia maka sekedar merdeka saja tidak cukup. Bung Karno mengobarkan semangat revolusi tanpa henti. Indonesia menggalang negara-negara di Asia dan Afrika, kita juga menggalang negara-negara yang tidak ingin terjebak dalam blok barat dan timur dalam gerakan Non Blok, tidak lupa Bung Karno mengguncang dunia lewat pidato-pidatonya terutama di sidang umum PBB. Pada masa Bung Karno, kita berusaha mengembalikan kejayaan bangsa lewat usaha membangun kembali tatanan baru dunia.


Di masa pemerintahan Pak Harto, mimpi untuk mengembalikan kejayaan bangsa tidak surut. Kalau Bung Karno percaya pada revolusi maka Pak Harto mengedepankan pembangunan. Stabilitas ekonomi terjaga, pertumbuhan ekonomi tinggi, kita melakukan swasembada pangan bahkan kita disebut-sebut sebagai salah satu negara Macan Asia yang segera bertranformasi dari negara agraris menjadi negara industri maju. Tetapi ternyata pembangunan saja tidak cukup untuk mengembalikan kejayaan bangsa, gagasan demokratisasi muncul di penghujung milenum kedua.

Di era reformasi, kita percaya demokrasi bisa menjadi sarana untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Masa transisi kita lalui di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Sukarno Putri. Sementara perubahan-perubahan mulai kita rasakan pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perubahan-perubahan itu sebagian kita rasakan dengan cepat, sebagian lainnya terus tumbuh dan berproses.

“Make Indonesia Great Again”

Gagasan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, bukanlah spontanitas yang muncul belakangan ini saja. Jauh sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempopulerkan slogan ” Make Amerika Great Again, alhamdulillah sebagai bagian dari perjuangan gagasan dan pemikiran, saya telah menuliskan pemikiran itu ke dalam sebuah buku yang saya beri judul “Kembalikan Indonesia” pada tahun 2004 dan “Membangun Kembali Indonesia Raya” pada tahun 2007/2008. Sebuah pemikiran dan semangat yang banyak didasari dari semangat yang sudah tertanam sejak 73 tahun yang silam ketika para pendiri bangsa merumuskan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dan mimpi itu sangat mahal harganya, ditebus dengan darah dan air mata.

Untuk mengembalikan kejayaan Indonesia maka sekedar merdeka saja tidak cukup. Bung Karno mengobarkan semangat revolusi tanpa henti. Indonesia menggalang negara-negara di Asia dan Afrika, kita juga menggalang negara-negara yang tidak ingin terjebak dalam blok barat dan timur dalam gerakan Non Blok, tidak lupa Bung Karno mengguncang dunia lewat pidato-pidatonya terutama di sidang umum PBB. Pada masa Bung Karno, kita berusaha mengembalikan kejayaan bangsa lewat usaha membangun kembali tatanan baru dunia.

Di masa pemerintahan Pak Harto, mimpi untuk mengembalikan kejayaan bangsa tidak surut. Kalau Bung Karno percaya pada revolusi maka Pak Harto mengedepankan pembangunan. Stabilitas ekonomi terjaga, pertumbuhan ekonomi tinggi, kita melakukan swasembada pangan bahkan kita disebut-sebut sebagai salah satu negara Macan Asia yang segera bertranformasi dari negara agraris menjadi negara industri maju. Tetapi ternyata pembangunan saja tidak cukup untuk mengembalikan kejayaan bangsa, gagasan demokratisasi muncul di penghujung milenum kedua.


Di era reformasi, kita percaya demokrasi bisa menjadi sarana untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Masa transisi kita lalui di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Sukarno Putri. Sementara perubahan-perubahan mulai kita rasakan pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perubahan-perubahan itu sebagian kita rasakan dengan cepat, sebagian lainnya terus tumbuh dan berproses.

Para pendahulu kita mampu meninggalkan jejak perubahan untuk Indonesia karena mereka membawa karakter kepemimpinan yang sama yaitu : kepemimpinan yang kuat, kepastian hukum dan harmonisnya hubungan antar lembaga negara. Sesuatu hal yang langka kita temukan sekarang.

Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah. Hukum menjadi alat tawar menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan. Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya kabinet kerja, akibat saling tuding antar kementrian dan lembaga negara. Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara.

Sekarang, saudara-saudara sekalian, kenapa terdengar nada-nada sumbang yang ketakutan terhadap gagasan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Kenapa bergema nada-nada khawatir dari keinginan untuk mengedepankan kepentingan bangsa di atas segalanya, menjadikan Indonesia untuk orang Indonesia.


Saya curiga ada sesuatu dibalik ketakutan itu. Saya ikut khawatir, jika orang-orang ini takut sebab selama ini mereka telah melepaskan mimpi untuk membesarkan Indonesia. Menanggalkan kepercayaan diri bahwa kita bangsa Indonesia tidak hanya mampu jadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi juga mampu menjadi negara besar di tengah negara bangsa lainnya.

Mereka yang tidak mau Indonesia jaya, tidak pula ingin tanah air Indonesia untuk bangsa Indonesia adalah para pencari “rente” di balik mandegnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka lah para pengambil untung di tengah-tengah kondisi ekonomi rakyat kita yang buntung. Kita, bangsa Indonesia, seharusnya tidak memberi tempat untuk orang-orang ini.
“Make Indonesia Great Again” atau Mengembalikan kejayaan Indonesia bukanlah retorika yang perlu diperdebatkan tetapi sebuah tanggung jawab yang diberikan oleh para pendiri bangsa untuk kita. Jika mereka, para pendiri bangsa bisa mengubah nasib bangsa yang telah dijajah selama ratusan tahun maka kita seharusnya mampu mengubah nasib rakyat yang semakin tidak menentu di hari-hari belakangan ini.
Insyaallah, kerja besar itu adalah sebuah kehormatan untuk kita semua.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI