Kuatnya Nilai Tukar Dolar Jadikan Momentum Dan Peluang Pasar Ekspor

| Rabu, 03 Oktober 2018 | 19.11 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
foto: apakabar/nor
Mediaapakabar.com-Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Abdul Kadir Damanik mengungkap, menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah harus dijadikan momentum dan peluang UMKM untuk meningkatkan pasar ekspor.

" Ini merupakan peluang emas bagi produk UMKM yang bahan bakunya bukan dari impor. Salah satu strategi mengembangkan rantai pasokan produk pelaku UMKM yang sudah melakukan ekspor," jelas Damanik pada acara Workshop Strategi KUMKM Dalam Menghadapi Dampak Perdagangan Bebas, di Jakarta pada Rabu (03/10/2018).

Untuk itu, pihaknya akan terus meningkatkan pemahaman KUMKM dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang usaha dari implementasi perdagangan. 

Juga meningkatkan sinergitas antara pelaku usaha (KUMKM) dengan stakeholders dalam pengembangan dan pemasaran produk, sehingga produk KUMKM makin kompetitif di pasar global. 

" Kami juga mendorong pelaku usaha KUMKM melakukan ekspor sendiri tidak melalui perantara atau pengusaha besar, sehingga nilai tambah lebih besar," tandas Damanik.

Damanik menambahkan, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juli 2018 mencapai US$104,24 miliar. Sedangkan nilai ekspor UMKM sampai dengan akhir 2017 sebesar US$28,21 miliar atau sebesar 17%. 

" Dari angka tersebut, nilai ekspor UMKM Indonesia lebih rendah jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya seperti Filipina 25%, Malaysia 28%, dan Thailand 35%," tukas Damanik.

Ketika pasar Asean terbuka lebar, kata Damanik, pangsa pasar produk UMKM Indonesia tidak lagi berkutat di pasar nasional dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa. Melainkan sudah menjadi 600 juta jiwa total penduduk negara-negara Asean. 

Menurut Damanik, UMKM perlu didorong untuk melakukan kegiatan ekspor agar dapat memperoleh manfaat dari kegiatan ekspor dalam bentuk meningkatkan kemampuan berkompetisi di pasar yang lebih luas, bukan hanya untuk pasar domestik. 

" Oleh karena itu, UMKM perlu untuk memiliki kemampuan menghadapi persaingan yang bersifat global", tukas Damanik.

Selain itu, manfaat dari UMKM melakukan ekspor adalah pertumbuhan usaha yang relatif lebih stabil karena risiko usaha UMKM terbagi ke banyak pasar, bukan hanya di pasar domestik. Serta, meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perolehan devisa negara. 

" Yang tak kalah penting adalah UMKM mampu meningkatkan surplus perdagangan yang pada akhirnya meningkatkan kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,"  tegas Damanik.

Meski begitu, Damanik mengaku rendahnya nilai ekspor UMKM dikarenakan beberapa hal. Diantaranya, kuantitas atau volume, pemenuhan standar ekspor termasuk packaging sebagai komoditi internasional, kecepatan proses produksi dan kontinuitas suplai yang belum dapat dipenuhi para UMKM Indonesia. 

" Selain hal tersebut, pemberlakuan perdagangan bebas juga merupakan tantangan yang tidak hanya internal di dalam negeri, tetapi juga tantangan eksternal dengan negara lain," imbuh Damanik.

Salah satu pembicara workshop, Tenaga Ahli Bidang Strategi Promosi dan Pemasaran FTA Center Ditjen PPEI Kemendag Aryoko Mochtar mengatakan, menjadi pemain global bukan lagi pilihan, melainkan merupakan suatu keharusan bagi para pelaku UMKM dalam negeri untuk tetap eksis di dunia perdagangan. 

" Pemerintah Indonesia dengan beberapa negara sudah membuat perjanjian perdagangan atau Free Trade Agreement, dimana perdagangan barang dan jasa tertentu hasil perjanjian dapat melewati perbatasan negara masing-masing tanpa dikenakan hambatan tarif atau hambatan non tarif," papar Aryoko.

Sementara itu, salah seorang pelaku UKM ekspor bernama Yennas Chandra mengungkapkan, bagi UMKM yang telah siap menghadapi persaingan global, maka perdagangan bebas merupakan kesempatan besar untuk mendapatkan keuntungan besar juga. 

" Sebaliknya, bagi UMKM yang tidak siap, akan bangkrut karena produknya tidak mampu bersaing dengan produk impor, atau kalah kualitas dan kalah harga," kata Yennas.  (nor)


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI